Minggu, 08 MARET 2026 • 15:00 WIB

BGN Ingatkan Pengelola Program Makan Bergizi Gratis Tidak Terpancing Narasi di Media Sosial

Author

Rapat koordinasi program MBG seputar pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

INDOZONE.ID - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengingatkan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak langsung bereaksi terhadap berbagai narasi yang beredar di media sosial terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Nanik, sejumlah informasi yang viral di media sosial kerap berkembang secara berlebihan, bahkan tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.

“Sejumlah kejadian memang terjadi di lapangan, namun tidak jarang narasinya berkembang secara berlebihan bahkan menjadi hoaks,” kata Nanik dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (8/3/2026).

Ia menegaskan pengelola SPPG sebaiknya lebih fokus pada pengawasan proses pengolahan makanan, agar kualitas serta keamanan pangan dalam program MBG tetap terjaga.

Pengelola MBG Diminta Perkuat Komunikasi Publik

BGN juga mendorong Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang bertugas sebagai pengawas di SPPG, untuk tidak hanya memastikan operasional program berjalan baik, tetapi juga mampu menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

BACA

Menurut Nanik, kemampuan komunikasi yang baik penting untuk menangkal misinformasi yang dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.

Sejumlah Isu Viral Tidak Sesuai Fakta

Nanik mencontohkan beberapa isu yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial, seperti dugaan temuan benda asing dalam makanan, hingga isu keracunan massal di sejumlah daerah.

Namun setelah dilakukan penelusuran, sebagian kasus tersebut ternyata tidak sesuai dengan narasi yang berkembang di media sosial.

Salah satunya adalah menu MBG yang sempat viral karena disebut hanya berisi mi dan satu buah pisang. Setelah dikonfirmasi kepada pengelola SPPG dan pihak sekolah penerima manfaat, menu tersebut ternyata juga dilengkapi dengan ayam.

Kasus lain adalah video yang menyebut adanya penolakan program MBG di MTs 4 dan MAN 8 di Cilincing, Jakarta Utara. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui tidak terdapat sekolah dengan nama tersebut di wilayah Cilincing.

Selain itu, isu keracunan di Purworejo, Jawa Tengah yang sempat dikaitkan dengan MBG, juga diketahui berasal dari konsumsi makanan dalam acara hajatan masyarakat, bukan dari program tersebut.

Tantangan Pengelolaan Makanan dalam Skala Besar

Nanik menjelaskan pengelolaan makanan dalam jumlah besar memang memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam memastikan standar kebersihan serta tingkat kematangan makanan.

BACA

“Masaknya sudah menggunakan berbagai peralatan modern, namun tetap perlu pengawasan ketat. Masalah yang muncul seringkali lebih berkaitan dengan sistem tata kelola,” ujarnya.

Karena itu, ia kembali mengingatkan pentingnya penerapan standar sanitasi pangan dalam operasional dapur MBG.

Salah satu hal yang ditekankan adalah penggunaan air panas dalam proses pencucian ompreng atau wadah makan yang digunakan dalam program tersebut. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan peralatan makan tetap higienis.

BGN berharap pengelola SPPG terus meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan serta menjaga komunikasi yang baik dengan masyarakat, agar Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan optimal dan tetap dipercaya publik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU