Tragedi Buku Rp10 Ribu: Bunuh Diri Siswa SD di Ngada Buka Luka Lama Pendidikan dan Kemiskinan
INDOZONE.ID - Tragedi meninggalnya YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 29 Januari 2026, menarik simpati publik. Anak seusia itu mengakhiri hidupnya dengan alasan yang terdengar sederhana, namun menyakitkan: tak mampu membeli buku tulis dan pena seharga Rp10 ribu.
Peristiwa ini segera memantik reaksi luas dari berbagai kalangan, termasuk pemerhati pendidikan di Ngada, Pether Paju. Kepada Wulan Paty, Pether menegaskan bahwa kasus YBS bukan kejadian tunggal.
“Kejadian seperti ini sebenarnya sering terjadi di Ngada, hanya saja tidak terekspos media,” ujar Pether.
Ia mengungkapkan, sebelum tragedi YBS, pernah terjadi kasus bunuh diri seorang mahasiswa semester empat di Ngada dengan latar belakang persoalan sosial-ekonomi serupa. Namun, peristiwa itu nyaris luput dari perhatian publik.
Baca juga: Tragedi Siswa SD di Ngada Jadi Alarm Keras Pendidikan Gratis di NTT
Dari pengalaman pendampingannya, Pether menyebut banyak anak usia sekolah di Ngada yang memikul beban di luar kemampuan mereka.
“Beberapa anak yang pernah saya jumpai dan bantu mengatakan bahwa mereka adalah tulang punggung keluarga, padahal masih usia sekolah,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini bukan fenomena langka. Banyak anak terpaksa bekerja, menanggung kebutuhan keluarga, dan menekan kebutuhan pribadi, termasuk pendidikan, demi bertahan hidup.
Pether menilai tragedi seperti ini lahir dari persoalan struktural yang menumpuk. Minimnya lapangan kerja di wilayah Bajawa membuat banyak keluarga terjebak dalam kemiskinan berkepanjangan. Di sisi lain, edukasi sosial di lingkungan masyarakat maupun sekolah dinilai masih sangat kurang.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah data kependudukan. Pether menemukan beberapa warga miskin yang tidak terdata secara administratif sebagai warga setempat, sehingga terhambat mengakses bantuan sosial.
“Ada warga yang jelas masuk kategori miskin, tapi karena identitasnya tidak terdata karena bukan warga setempat atau ada masalah dalam kepengurusan identitasnya, bantuan sosial tidak bisa tersalurkan,” jelasnya.
Baca juga: Kata Cak Imin soal Siswa SD Gantung Diri di NTT: Jadi Cambuk untuk Semua
Salah satu poin penting yang ditekankan Pether adalah soal ketepatan sasaran bantuan sosial. Ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya bergantung pada data di atas kertas.
“Harus dicermati lagi. Kalau perlu, ada tim khusus dari pemerintah pusat yang sesekali turun langsung ke daerah untuk memverifikasi data,” tegasnya.
Tragedi YBS menjadi pengingat pahit bahwa pendidikan gratis belum sepenuhnya bebas biaya, dan perlindungan anak belum benar-benar menjangkau mereka yang paling rentan. Di balik angka, laporan, dan data, ada anak-anak yang memendam beban terlalu besar hingga akhirnya kehilangan harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan