Jumat, 23 JANUARI 2026 • 13:02 WIB

Pemetaan Drone Jadi Dasar Prencanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabanjir di Aceh Utara

Author

Tim pemetaan melakukan pengoperasian drone mapping di kawasan terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Kamis, (22/1/2026) (Rivan Efendi).

INDOZONE.ID - Teknologi drone mapping dikerahkan untuk memotret dampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Sawang, Aceh Utara

Tim Arsyina (Al-Irsyad Renponse Team Indonesia) bersama Aliansi Mahasiswa Bogor Tanggap Bencana melakukan pemetaan udara guna memperoleh data akurat sebagai dasar analisis kerusakan dan perencanaan rehabilitasi, Kamis, (22/1/2026).

Kegiatan pemetaan berlangsung selama tujuh hari, sejak 16 hingga 22 Januari 2026.

Pengambilan data difokuskan pada area terdampak utama, di antaranya alur sungai, bendungan, jaringan irigasi, hingga area lahan pertanian masyarakat.

Penggunaan drone memungkinkan pengumpulan data spasial dengan tingkat ketelitian tinggi.

Baca juga: Kompleks Polri Pondok Karya Mampang Tergenang Banjir, Setinggi 60 cm

Citra udara resolusi tinggi digunakan untuk merekam perubahan bentang alam akibat bencana yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ketua Aliansi Mahasiswa Bogor, Fajar Alfitra, mengatakan pemetaan udara menjadi langkah krusial dalam memastikan keakuratan data kerusakan.

“Pendataan melalui drone mapping ini bertujuan mendapatkan gambaran kondisi wilayah secara objektif dan terukur, sehingga analisis yang dilakukan tidak hanya berbasis asumsi lapangan,” kata Fajar.

Seluruh data hasil pemetaan kemudian diserahkan kepada tim Aliansi Mahasiswa Bogor untuk dianalisis lebih lanjut.

Analisis spasial dilakukan dengan pendekatan perbandingan citra pra dan pascabencana hidrometeorologi.

Baca juga: KBRI Phnom Penh Negosiasi ke Kamboja, Minta Korban Online Scam Bebas Denda Overstay

Menurut Fajar, metode tersebut penting untuk menghitung valuasi kerusakan secara komprehensif.

“Dengan membandingkan citra sebelum dan sesudah bencana, kami dapat menghitung luasan terdampak, tingkat kerusakan di area permukiman, perubahan alur sungai hingga sistem pengairan secara lebih presisi,” ujarnya.

Hasil analisis ini diharapkan mampu memberikan dasar teknis yang kuat bagi perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. 

Terutama dalam pemulihan sistem irigasi dan perlindungan lahan pertanian produktif masyarakat.

Kajian geospasial yang disusun akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan pemulihan awal. 

Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan pascabencana berbasis data dan mendukung ketahanan pangan di wilayah terdampak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU