Sabtu, 13 SEPTEMBER 2025 • 12:44 WIB

Dari Masjid ke Madrasah, Sabang Tumbuhkan Gerakan Ekoteologi yang Menginspirasi

Author

Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Photo/ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

INDOZONE.ID - Sabang, kota yang berada di ujung paling barat Indonesia, kini dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena komitmennya dalam menerapkan praktik ekoteologi.

Gerakan ini lahir dari inisiatif Kementerian Agama melalui Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menekankan pentingnya mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.

Program ekoteologi hadir untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan juga bentuk ibadah. 

Penyuluh Agama Islam Madya Kota Sabang, Mulkhaidir, menyebutkan bahwa penyebaran nilai-nilai ekoteologi dilakukan secara bertahap. 

Baca juga: Kementerian PANRB Gelar Uji Publik Manajemen Talenta ASN, Ini Tujuannya

“Kegiatan ini dilakukan bertahap, dari madrasah ke masjid, lalu ke kantor KUA, bahkan ke musala-musala,” ujarnya pada Kamis, 11 September 2025.

Ia menambahkan, masyarakat Sabang diajak menanam pohon, merawat kebersihan, dan peduli pada kelestarian alam dengan dasar dalil agama. 

Menurutnya, hal tersebut membuat masyarakat lebih mudah menerima pesan karena dikaitkan langsung dengan nilai spiritual. 

“Kami selalu mengajak masyarakat untuk menghijaukan bumi. Motivasi itu selalu kami kaitkan dengan dalil agama,” tuturnya.

Baca juga: Polantas di Jakpus Diserang Pemotor, Korban Dihujani Pukulan Beberapa Kali

Program Masjid Hijau dan Madrasah Hijau kemudian digulirkan untuk memperluas jangkauan gerakan ini. 

Kegiatannya meliputi penanaman pohon, pembersihan lingkungan ibadah, penghematan air wudhu, hingga pengelolaan sampah. 

Semua aktivitas ini bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap lingkungan.

Mulkhaidir menilai, langkah tersebut membawa dampak signifikan. Masjid yang biasanya menjadi pusat spiritual kini berkembang menjadi pusat perubahan sosial sekaligus ekologis. 

Baca juga: Bupati Ajak ASN Banyuwangi Rutin Naik Ojol dan Angkutan Umum Tiap Jumat

Umat lebih memahami bahwa menjaga kebersihan dan merawat alam merupakan wujud nyata dari ajaran agama.

Sementara itu, Nadiaturrahmi, CPNS Penyuluh Agama Islam di KUA Suka Karya, menekankan pentingnya edukasi ekoteologi di tengah masyarakat. 

Nadiaturrahmi menilai masih banyak warga yang belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan kurang memedulikan lingkungan sekitar.

“Kami menjelaskan apa itu ekoteologi, mengapa harus menanam pohon, apa dampaknya bagi masa depan, dan manfaat yang bisa dirasakan,” jelasnya.

Baca juga: Menteri PKP Serahkan Kunci Rumah Subsidi di Parepare, Simbol Harapan bagi Warga Berpenghasilan Rendah

Dengan penjelasan sederhana yang menyentuh sisi keagamaan, masyarakat semakin mudah memahami bahwa ekoteologi adalah ajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Penyuluhan ini bukan hanya teori, tetapi langsung dipraktikkan dalam kegiatan nyata seperti penghijauan dan kebersihan lingkungan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemenag.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU