Minggu, 07 SEPTEMBER 2025 • 16:20 WIB

Aksi Demo Agustus 2025 Diikuti Kelas Menengah, Bukti Indonesia Masih Punya Harapan

Author

Masyarakat sipil yang tergabung dalam Kolektif 17+8 Indonesia Berbenah melakukan aksi demo di depan Gedung DPR RI, Jakarta. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

INDOZONE.ID - Aksi demonstrasi di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2025 yang diikuti oleh masyarakat kalangan kelas menengah, dinilai menjadi kabar baik bagi Indonesia. 

CEO Indozone Riel Tasmaya menilai hal ini sebagai hal baik, yang selama ini tidak terjadi.

"Kalau saya bilang, ini keajaiban tuhan, bisa kelas menengah itu speak up," kata Riel dalam diskusi bertema “Indonesia Berbenah” yang diadakan beberapa media homeless pada Kamis 4 September 2025. 

Dia menjelaskan, Indozone ikut terlibat dalam menyuarakan aspirasi dan keresahan masyarakat ini. Sebagai platform digital generasi muda, Indozone melakukan kolaborasi agar ana-anak muda berani bersuara demi Indonesia yang lebih baik.

"Kami mengamplifikasi dan mendistribusikan segala macamnya, sampe akhirnya kelas menengah dan silent majority itu ikut speak up," ujarnya.

Baca juga: Imbas Demo Ricuh, Polda Metro Jaya Rugi Lebih dari Rp 180 Miliar

Hanya saja, dia mengingatkan agar keresahan yang akhirnya tertuang dalam 17+8 tuntutan rakyat harus tetap difokuskan pada isu tersebut.

Dia tak mau dan menyesalkan aksi demo ini diwarnai kericuhan hingga anarkisme, yang justru menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Di tempat yang sama, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali mengamini pernyataan Riel Tasmasya. Menurutnya, ini menjadi semacam oase di tengah kondisi masyarakat saat ini.

"Di tengah kondisi bahwa rakyat bisa disuap, ada juga kelas menengah, kelompok kecil yang bisa melakukan hal positif, maka memang ini jadi keajaiban tuhan. Jadi ada harapan pada kelompok-kelompok kecil ini," kata Rhenald Kasali.

Menurutnya, hal ini berpotensi membawa perubahan besar pada Indonesia. Kondisi serupa, kata dia, pernah terjadi di Chile ketika masyarakat kelas menengahnya bergerak hanya karena terjadi kenaikan tiket kereta api, hingga mengguncang pemerintahan.

Baca juga: Suasana Haru, Doa Bersama untuk Korban Demo 29 Agustus Digelar di Pelataran DPRD Makassar

Karena itu, dia mengingatkan agar para elite politik untuk berhati-hati dalam membuat kebijakan, terutama yang berdampak pada masyarakat kelas menengah.

"Ketika kepentingan mereka terusik, mereka pasti akan bergabung. Jadi ada harapan juga pada kelas menengah itu, kelas menengah yang berkepentingan. Maka kita ingatkan pada elite, jangan sembarangan dalam membuat policy," sambungnya.

Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Qothrunnada Wahid menjelaskan lebih lanjut arti keterlibatan kelas menengah ini dalam gerakan politik nasional. Dia meyakini, saat ada kondisi yang membuat mereka terjepit, maka gerak perubahan tidak akan lagi dapat dibendung.

"Saya pikir ini tinggal menunggu waktunya aja, kalau kelas menengahnya bener-bener tergencet dan bergerak, karena memang yang punya kesadaran kritis itu biasanya memang kelas menengah," kata Alissa.

"Perubahan apa pun sebenarnya selalu akan dimulai oleh sekelompok kritis yang berangkat dari kelas menengah. Jadi kalau sekarang kelas menengah bergerak, kita tetep punya harapan," sambungnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pantauan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU