Ribuan warga memaksa naik pesawat untuk keluar dari Afghanistan. (foto/kolase/istimewa).
Suasana mencekam terjadi di Afghanistan pada hari Senin, (16/8). Pasalnya keamanan rakyat sudah tidak terjamin lagi, maka ribuan warga memaksa naik pesawat untuk keluar dari Afghanistan.
Hal itu terlihat dari video yang beredar luas di media sosial (medsos). Terlihat ribuan warga berduyun-duyun menaiki pesawat yang ada hingga memanjat dari samping tangga pesawat tersebut, di Bandara Kabul, Afghanistan.
Bahkan, dari informasi yang dihimpun, warga tersebut tak mengenal biaya dan tujuan, apalagi tentang protokol kesehatann dan Covid-19. Sebab, mereka hanya memikirkan bagaimana caranya cepat keluar dari Afghanistan.
Hal ini dipicu karena Taliban dari hari Minggu (15/8) sudah menguasai Kabul, Ibu Kota Afghanistan.
Seperti diketahui dari informasi yang dihimpun, Taliban telah mengeklaim kemenangan di Afghanistan dengan menyatakan "perang telah berakhir".
Kelompok Islam puritan itu pertama kali menguasai negara itu pada tahun 1994 yang dipimpin oleh mantan komandan kelompok Mujahidin, Mohammad Omar.
Taliban terkenal memberlakukan hukum Islam yang keras versi mereka sendiri, termasuk merajam orang-orang yang dicurigai berzina, dan melakukan eksekusi di depan umum.
Tak hanya itu saja, perempuan dilarang bekerja, anak perempuan dilarang bersekolah. Laki-laki dilarang mencukur janggut dan perempuan dipaksa memakai burka dari kepala sampai ujung kaki.
Hal itu terjadi karena banyak yang berubah ketika Amerika Serikat (AS) menginvasi rezim Taliban pada tahun 2001, di mana perempuan dan etnis minoritas diberikan kebebasan yang lebih besar.
Sekarang Taliban kembali di ambang mengambil alih kekuasaan lagi setelah menguasai istana kepresidenan di Kabul. Hal ini membuat kekhawatiran, bahwa Taliban akan membatalkan beberapa kebebasan yang baru dimenangkan bagi warga Afghanistan.
Sebagai tanda hal-hal buruk yang akan datang, sebuah foto di media sosial menunjukkan pemilik salon kecantikan mengecat dinding untuk menghapus poster yang menggambarkan wanita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: