Memahami konflik dengan kekerasan yang terus menerus terjadi antara Palestina dan Israel, sangatlah penting untuk membedahnya dari sudut pandang strategi, khususnya strategi yang dipakai Israel sehingga terlihat mendominasi dibanding Palestina.
Analis konflik dan keamanan, Alto Labetubun menjelaskan, perlu dipisahkan antara strategi dan narasi-narasi yang selama ini sudah sering dibahas, di antaranya adalah narasi perebutan lahan dan penjajahan, narasi teologis, narasi penderitaan.
"Bukan berarti narasi-narasi tersebut tidak penting, akan tetapi dalam melihat strategi, narasi-narasi tersebut tidak diikutsertakan," tutur Alto kepada Indozone, Senin (17/5/2021).
Alto pun membagi pembahasan dalam 4 hal terkait konflik Palestina vs Israel yang berkepanjangan.
Menurut Alto, Israel memahami bahwa stabilitas kawasan adalah investasi yang sangat penting dan berimplikasi pada kepentingan nasional negara-negara kawasan Timur Tengah maupun negara-negara investor.
Oleh karena itu, maka Israel semaksimal mungkin memposisikan dirinya sebagai partner strategis yang bisa dipercaya menjaga stabilitas kawasan karena mempraktikan prinsip-prinsip demokrasi khususnya kepastian hukum, transparansi dan akuntabilitas, sehingga "investasi pertemanan" dengan Israel itu jauh lebih terjamin karena ada kepastian tadi.
"Hal ini berbeda dengan model pemerintahan autokrasi di kawasan yang rentan akan perubahan karena memang basisnya adalah pemerintahan berdasarkan suku/keluarga. Ada simbiosis mutualisme stabilitas dan ekonomi antara Israel dengan negara-negara kawasan dan juga dengan negara-negara investor," urai dia.
Alto menilai, hal ini tidak dimiliki oleh Palestina sekarang. Kondisi pemerintahan Palestina yang tidak solid dan terdiri dari banyak faksi yang masing-masing merasa berhak mengatasnamakan Palestina dan hampir tidak satu komando, bahkan punya sayap-sayap bersenjata sendiri-sendiri.
"Fragmentasi kekuasaan di Palestina adalah kerentanan yang mampu dieksploitasi oleh Israel dalam strateginya," tegas dia.
Alto menjelaskan, Israel sangat mengerti, jika konfliknya dengan Palestina ditarik ke ranah agama, maka otomatis mereka akan kalah jumlah. Di samping itu, mereka juga tahu kemungkinan terjadi kebosanan jika narasi yang dipakai adalah narasi pembersihan etnis yang dilakukan oleh Nazi kepada bangsa Yahudi.
"Oleh karena itu maka mereka mereformulasinya dengan isu survival," ucap Alto.
Isu survival, sambung dia, secara psikologis masuk dan sejalan dengan kepentingan pemerintahan negara-negara kawasan yang memang ingin tetap berkuasa dengan cara apapun. Negara-negara kawasan ini bahkan tidak akan berpikir soal penegakan hak asasi manusia demi bertahan hidup.
Baca Juga: Peristiwa 17 Mei: Proklamasi Kalimantan hingga Hari Buku Nasional
"Sebaliknya, mereka akan melakukan semua cara agar kepentingan domestik dan kekuasaannya tetap langgeng. Israel memanfaatkan celah itu untuk melakukan negosiasi bilateral antar negara sehingga timbal-balik kepentingan nasional tiap-tiap negara bisa disesuaikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing," paparnya.
"Sebaliknya hal yang sama tidak bisa diberikan oleh pemerintahan Palestina. Fakta-fakta dukungan faksi-faksi bersenjata di Palestina baik langsung atau tidak langsung terhadap aksi teror yang terjadi di kawasan maupun di negara lain membuat ketidakpercayaan terhadap Palestina semakin gampang dieksploitasi," sambung Alto.
Dikatakan Alto, Pemerintah Israel mengerti betul apa itu ‘“acceptable risk” dunia internasional. Acceptable risk - dalam konteks perang - adalah ketika terjadi korban dalam sebuah operasi militer tapi dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Jadi dalam operasi-operasi militernya, mereka berupaya agar jumlah korban meninggal dalam satu operasi militer tidak akan berbeda secara eksponensial dengan operasi-operasi militer yang terdahulu, sehingga tidak mendapat kecaman yang luar biasa dari dunia internasional.
"Hal ini berbeda ketika kelompok-kelompok bersenjata di Palestina melakukan serangannya ke Israel yang dipersepsikan sebagai serangan membabi-buta, apalagi jika dilakukan oleh Hamas yang oleh beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa sebagai kelompok teror," ujar Lulusan Master of international Studies dengan spesialisasi Peace and Conflict Resolution dari University of Queensland, Australia itu.
Otomatis, kata Alto, membuat persepsi korban menjadi berbeda antara yang dilakukan oleh Israel dalam konteks operasi militer dengan yang dilakukan oleh Palestina dalam konteks serangan membabi-buta.
Diakui Alto, Israel tahu bahwa korban dari tragedi kemanusiaan di dunia itu bukan terjadi di Palestina saja dan tragedi kemanusiaan di Palestina itu bukan satu-satunya tragedi yang terjadi di dunia ini.
Sebab, ada banyak tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi sekarang, sehingga memakai prinsip ‘pelaku dan korban’ dengan menunjukkan gambar atau bukti korban tewas, kehilangan properti dan harta benda bukanlah monopoli Palestina saja dan negara-negara pun akan memilih tragedi mana yang akan mereka respon, sesuai dengan kepentingan domestik mereka.
"Ini adalah tiga kerentanan yang berhasil dieksploitasi oleh Israel sebagai strategi melawan Palestina dalam konflik yang berkepanjangan ini. Israel melakukan perubahan dalam strateginya sedangkan Palestina sepertinya masih memakai strategi lama yang akhirnya kontraproduktif dan tidak berhasil," ungkap Alto.
Kemudian timbul pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh Palestina untuk bisa menang atau paling tidak memiliki power relations yang sama dengan Israel?
Alto menegaskan, tentu Palestina harus menutupi vulnerabilitas alias kerentanan mereka tadi. Mereka harus memikirkan ulang tentang taktik "korban dan pelaku" yang sudah sangat sering dipakai.
"Mereka juga seharusnya keluar dari strategi agamisasi konflik karena dunia internasional tidak melihat konflik Israel - Palestina sebagai konflik agama. Palestina juga harus meminimalkan konfrontasi militer, karena kekuatan mereka tidak seimbang dengan militer Israel," kata dia.
"Akan tetapi, semuanya itu tidak akan bisa dicapai jika Palestina tetap terfragmentasi dan tidak bersatu. Hanya dengan bersatu maka Palestina bisa memposisikan dirinya sebagai 'partner worth investing'," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: