Aktivis perempuan Yuniyanti Chuzaifah membagikan pengalamannya diundang ke kediaman Lia Aminuddin alias Lia Eden beberapa waktu lalu, sebelum Lia Eden meninggal dunia.
Menurut Yuniyanti, Lia Eden adalah sosok perempuan yang mencari Tuhan dengan pengembaraan dan perjuangan spiritual yang sangat menarik.
Waktu itu, Yuniyanti yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), diundang Lia Eden ke kediamannya di Jalan Mahoni, Jakarta.
"Salah satu sahabat kami menjadi orang kedua komunitas yang sejuk Salamullah Eden ini," tulisnya di Facebook, Minggu (12/4/2021).
Yuniyanti kemudian membagikan tulisannya yang dikutip oleh Abdul Rahman Eden, transmitter wahyu di Salamullah.
"Foto waktu ke Eden, betul-betul seperti surga. Keramahan, rumah sejuk dan mendamaikan, artistik dengan desain sebagian dari Malaikat jibril, makanan lezat lontong cap gomeh yang disiapkan untuk 40 orang (yg dtg 6 orang dr formaci). Disaji dengan cantik dan disajikan oleh gadis-gadis berwajah suci," tulisnya.
"Obrolan hangat dengan isteri YM Rahman, mbak Tri yang ceria dan informatif tentang ajaran-ajaran bijak. Juga ketemu dengan ibu Lia Aminudin yang berkharisma dan menjelaskan kedekatan Tuhan dengan theologi yang merangkul. Di ujung jelang pulang, dengarkan ritual anak anak dan remaja yang mewartakan wahyu dengan lantunan lagu berjiwa. Anak2 itu yang mencipta (aransemen:red) lagunya. Wahyu menjadi berasa indah dan syahdu," lanjutnya.
"Terimakasih Eden, belajar banyak tentang cara Tuhan menyapa kita dengan berbagai cara dan rupa. Semoga persaudaraan ini menjadi awal bagi persaudaraan seluruh umat manusia, menyemai damai di bumi. Amin."
Saat berfoto bersama, kenang Yuniyanti, Lia Eden menceritakan bagaimana kondisi tubuhnya saat ia menerima wahyu dari malaikat. Ia juga menyebut bahwa Lia Eden merupakan sosok yang bersahaja dan jauh dari nikmat duniawi.
"Juga wahyu2 yang hadir, sering bernuansa keseharian. Kepercayaan dan spiritualitas yang menarik untuk disimak. Yang pasti komunitas Salamullah ini, sangat bersahaja dg pakaian yang putih, saling bertukar pakai, minim konsumsi, bebas dr kemelekatan, hidup dalam kolektivitas yang kuat. Setiap sudut indah rumah dan keramahan mereka begitu menarik," kata Yuni.
Adapun Lia Eden meninggal dunia pada hari Jumat (9/4/2021). Wanita kelahiran 21 Agustus 1947 itu meninggal pada usia 73 tahun.
Jasadnya dikremasi di Grand Heaven, Jalan Pluit Raya, Jakarta Utara, Senin (12/4/2021).
Proses kremasi jasad Lia Eden dihadiri oleh puluhan jemaatnya serta keluarga dekatnya. Mereka semua memakai pakaian serbaputih.
Pada saat detik-detik terakhir sebelum dikremasi, para pengikut Lia Eden menyanyikan sebuah nyanyian dan menyebut nama-nama malaikat.
Setelah dikremasi, abu jenazah Lia dilarung di Pantai Ancol, Jakarta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Indozone, semasa hidupnya, terlepas dari keyakinan dan ajarannya yang kontroversial, Lia tergolong orang yang dermawan. Ia sering membagikan makanan kepada tetangga.
Semasa hidup, Lia beberapa kali menyatakan pengakuan yang bikin geger.
Ia mengaku pernah menerima wahyu secara langsung dari Malaikat Jibril dan terus dibimbing oleh malaikat Jibril sejak tahun 1995 sampai akhir hayatnya.
Oleh para pengikutnya, Lia biasa disapa Paduka Bunda Lia Eden. Ia mendirikan komunitas Salamullah sebagai simbol perjuangan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia juga dijuluki sebagai Ratu Surga.
Lia juga kerap mengaku sebagai titisan Tuhan dan telah bertemu Bunda Maria. Pada akhirnya, karena ajarannya dianggap sesat, Lia ditahan dan menjalani hukuman penjara selama 2,5 tahun.
Tahun 2005, selepas pengakuannya mendapat wahyu dari Jibril, Lia mendirikan ajaran Takhta Suci Kerajaan Tuhan.
Dalam Takhta Suci Kerajaan Tuhan yang dibuat Lia, terdapat sejumlah ajaran yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat, terutama pemeluk agama Islam.
Antara lain, Lia menyebut salah satu pengikutnya yang bernama Mohammad Abdul Rachman sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad SAW.
Lia juga mensahkan salat dalam dua bahasa dengan bersandarkan pada Alquran surat Maryam ayat 97.
Tak sampai di situ, Lia telah menafsirkan beberapa ayat Alquran lainnya sesuai dengan kehendaknya sendiri, antara lain surat An Nazm ayat 6 untuk membenarkan bahwa sosok malaikat Jibril telah bersemayam dalam dirinya.
Selain itu Lia juga menghalalkan daging babi karena menurut dia sesuai fatwa Allah, babi tidak haram lagi di zaman yang hewan ternaknya riskan dikonsumsi karena penyakit flu burung, sapi gila, dan antraks yang membahayakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: