Pemakaman ilmuwan nuklir Iran. (Handout via REUTERS)
Pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh, seorang ilmuwan nuklir Iran membuat hubungan Iran dan Israel memanas. Teheran pun menuding Israel berada di balik aksi pembunuhan tersebut.
Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani sempat melontarkan tuduhan bahwa Israel adalah pembunuh ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh. Selain itu, Presiden Iran menilai bahwa sosok Mohsen Fakhrizadeh telah dituduh oleh negara Barat sebagai otak di balik proyek bom nuklir rahasia.
"Sekali lagi, tangan-tangan jahat arogansi global telah ternoda dengan darah (yang dilakukan) pembunuh bayaran rezim pendudukan Zionis," kata Presiden Rouhani - yang menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada Israel, dalam sebuah pernyataan.
Melansir Reuters, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak berkomentar terkait berkomentar tentang hal tersebut. Hal itu juga dilakukan Amerika yang tak mengeluarkan pernyataan apapun terkait hal tersebut.
Amerika Serikat secara tradisional melindungi Israel dari tindakan apa pun di Dewan Keamanan. Namun ketika pembunuhan ini berhembus, belum ada komentar apapun.
Baca Juga: Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran, Teheran Minta Dewan Keamanan PBB Bertindak
Pembunuhan Fakhrizadeh dapat menyulut konfrontasi antara Iran dengan lawan-lawannya di akhir masa jabatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, juga menambah rumit upaya yang harus dilakukan oleh Presiden Terpilih Joe Biden untuk menurunkan ketegangan dalam hubungan Iran-AS.
Teheran menuntut Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk pembunuhan itu dan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab. Namun hal ini diprediksi para diplomat kemungkinan besar tidak diindahkan.
Dewan Keamanan akan bertemu pada 22 Desember untuk pertemuan dua kali setahun mengenai kepatuhan dengan resolusi yang mengabadikan kesepakatan nuklir 2015 antara kekuatan dunia dan Iran, yang dihentikan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada 2018.
Setiap anggota dewan atau Iran dapat memilih untuk mengajukan pembahasan pembunuhan Fakhri Zadeh selama pertemuan itu.
Penyelidik PBB tentang eksekusi ekstra-yudisial, Agnes Callamard, mengatakan pada hari Jumat bahwa banyak pertanyaan seputar pembunuhan Fakhrizadeh, tetapi mencatat definisi pembunuhan yang ditargetkan di luar wilayah di luar konflik bersenjata.
Callamard mengatakan di akun Twitter miliknya bahwa pembunuhan semacam itu adalah pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional.
"Pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional yang melarang perampasan kehidupan secara sewenang-wenang dan pelanggaran terhadap Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan secara ekstrateritorial di masa damai," cuit Callamard.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: