Pengamat Intelijen dan Keamanan Negara, Stanislaus Riyanta mengingatkan pemerintah untuk tetap berhati-hati dan terus fokus pada upaya penyelesaian masalah pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.
Menurut Stanislaus Riyanta, baik Tiongkok maupun Amerika Serikat (AS) tengah menjalankan perang saat ini. Perang tersebut bisa saja merupakan perang dagang babak baru, atau bahkan bisa lebih parah dari itu, yakni perang bio terorisme.
"Jadi saling tuduh antara Tiongkok dan AS terkait Covid-19 ini sebenarnya bahaya. Ini menghancurkan negara lain dengan motif ekonomi atau untuk menguasai apapun tetapi penggunaan cara-cara seperti itu berbahaya," ujar Stanislaus Riyanta kepada Indozone, saat dihubungi pada Minggu (3/5/2020).
Menurutnya, saling tuduh siapa biang keladi dari mewabahnya virus corona itu sebenarnya membuktikan bahwa kedua negara tersebut sedang perang, baik itu dengan senjata ekonomi atau bio terorisme, maka itu dampaknya akan ke seluruh dunia.
"Meski demikian, apapun yang terjadi saat ini, pandemi Covid-19 ini dimanfaatkan baik oleh AS maupun Tiongkok. Dan kita tahu mereka sedang melakukan perang dagang. Ini bahaya," tegasnya.
Stanislaus Riyanta mengakui, ditengah pandemi seperti sekarang ini, tidak banyak yang bisa dilakukan Pemerintah Indonesia, agar tidak terjebak dalam perang yang dilakukan kedua negara, baik perang dagang maupun juga yang terburuk yaitu perang bio terorisme.
Momen ini, kata Stanislaus Riyanta, harus dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan kemandirian bangsa, agar tidak terjebak dalam perang dagang antara kedua negara.
"Jadi kepentingan bisnis ini sangat kuat. Ini momentum yang bagus bagi Indonesia untuk menjadi negara mandiri. Bisa di cek Minggu kemarin ekspor-ekspor produk pertanian kita meingkat drastis dan kalau kita melihat, para waralaba-waralaba dari luar itu banyak yang tutup, tetapi warteg-warteg kita banyak yang buka. Kalau kekuatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, maka ini bisa menjadi titik tolak kita untuk bangkit," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: