Geolog Australia dan Indonesia Teliti Geopark Ijen. (Sumber: Banyuwangikab.go.id)
INDOZONE.ID - Kawasan Banyuwangi kembali menjadi pusat perhatian geologi internasional setelah tim ahli dari Indonesia dan Australia melakukan ekspedisi ilmiah di wilayah Geopark Ijen. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda tahunan MGEI yang selalu menelusuri lokasi tambang dan mineral potensial di Indonesia.
Para peserta melakukan perjalanan ke Pulau Merah serta lokasi-lokasi penting lain untuk memperdalam pemahaman tentang rekam jejak mineral Banyuwangi. Senin, 1 Desember 2025.
MGEI sebagai organisasi profesi di bawah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menaungi para ahli geologi ekonomi yang berfokus pada sektor pertambangan mineral dan batubara.
Baca juga: Banyak Kasus Penyelundupan Benih Lobster di Indonesia, Dosen UGM Lakukan Penelitian
Dalam ekspedisi ini, hadir 10 peserta dan 3 trip leader, termasuk seorang ahli geologi dari Australia. Mereka menelusuri karakter batuan Banyuwangi untuk memahami mineralisasi emas dan tembaga.
Pada pertemuan dengan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, perwakilan MGEI, Arif Hermawan, menyampaikan alasan pemilihan Banyuwangi sebagai lokasi kajian. Arif Hermawan menjelaskan bahwa wilayah ini menyimpan potensi mineral yang sangat menarik untuk diteliti lebih dalam. Dalam penjelasannya, Arif Hermawan mengatakan, “Kami mempelajari bagaimana sistemnya terbentuk agar bisa menjadi rujukan pencarian mineral di wilayah lain, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar Indonesia.”
Wakil Ketua Jaringan Geopark Indonesia, Abdillah Baraas, memperkuat pernyataan tersebut dengan penjelasan mengenai keterkaitan Pulau Merah dan Ijen. Menurut Abdillah Baraas, keduanya memiliki karakter batuan yang saling menjelaskan satu sama lain. Ia menyampaikan bahwa warna kemerahan di Pulau Merah dan batuan Kawah Ijen menunjukkan proses oksidasi yang mirip.
Abdillah Baraas menegaskan, “Jika ingin melihat masa lalu Pulau Merah, lihatlah Ijen. Jika ingin melihat masa depan Ijen, lihatlah Pulau Merah.”
Selain Pulau Merah, rombongan meninjau Pusat Informasi Geologi Gopak Ijen yang memaparkan sejarah terbentuknya Banyuwangi sejak puluhan juta tahun lalu. Mereka mendalami lapisan-lapisan batuan hingga dinamika tektonik yang membentuk lanskap modern Banyuwangi. Para ahli juga meninjau kekayaan budaya serta flora dan fauna khas kawasan Geopark Ijen, menegaskan pentingnya kolaborasi konservasi dan edukasi.
Peneliti IPB University, Dr. Ir. Arzyana Sunkar, menyebut keterlibatan IPB dalam perjalanan ini memiliki kaitan dengan penyusunan kebijakan geopark yang berkelanjutan. Arzyana Sunkar menilai Geopark Ijen tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga mengangkat kualitas pariwisata Banyuwangi ke tingkat global. Ia berencana memperkenalkan praktik-praktik baik Banyuwangi dalam forum internasional di Malaysia. Dalam keterangannya, Arzyana Sunkar mengatakan, “Kami mengundang Ibu Bupati dalam forum ini agar Banyuwangi semakin luas dan penting untuk memperluas networking.”
Baca juga: Fakta Menarik Jim Simons, Sang Pelopor Penelitian Kuantitatif
Sementara itu, Rendy dari PT Meares Soputan Mining (MSM) menyampaikan bahwa praktik lingkungan milik BSI memberikan banyak pembelajaran bagi industri pertambangan. Menurut Rendy, “Kami mendapat banyak pembelajaran, termasuk hubungan geologi Pulau Merah dan Ijen, hingga bagaimana menemukan mineralisasi yang baik di sini.”
Bupati Ipuk Fiestiandani menyambut baik antusiasme para peneliti. Bupati Ipuk berharap Banyuwangi terus menjadi wadah ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat Geopark Ijen sebagai destinasi riset berkelas dunia. Bupati Ipuk menyampaikan, “Kekayaan geologi kami memang harus dimanfaatkan untuk riset dan edukasi bagi pengembangan Indonesia ke depan.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Banyuwangikab.go.id