Presiden Prabowo Gabung Board of Peace untuk Diplomasi Perdamaian, Jangan Bikin Narasi Murahan
INDOZONE.ID - Ketua Umum PASBATA PRABOWO, David Febrian, menegaskan bahwa langkah Presiden RI Prabowo Subianto bergabung dalan kerja sama Peace of Border bersama Amerika Serikat merupakan kebijakan diplomasi perdamaian, bukan bentuk keberpihakan terhadap konflik atau negara tertentu.
Menurut David, isu tersebut sengaja dipelintir oleh kelompok musuh politik yang tengah membangun narasi menyesatkan, seolah-olah Indonesia mendukung Israel.
Ia menilai pola semacam ini bukan hal baru dan selalu muncul setiap kali pemerintah mengambil langkah strategis di tingkat global.
“Ini pola lama. Mereka memotong konteks, memainkan emosi publik, lalu menggiring opini seakan-akan negara ini berpihak pada penjajahan. Rakyat jangan dibodohi dengan cara-cara seperti ini,” tegas David Febrian kepada Indozone, Selasa (3/22026).
Baca juga: Disamping Donald Trump, Presiden Prabowo Ikut Tanda Tangani Piagam Dewan Perdamaian
Ia menjelaskan bahwa Peace of Border bukan aliansi militer, bukan dukungan perang, dan bukan pengakuan terhadap pendudukan ilegal.
Kerja sama tersebut merupakan ruang diplomasi keamanan dan kemanusiaan, di mana Indonesia justru membawa nilai keadilan, hukum internasional, serta perlindungan rakyat sipil ke forum global.
David menegaskan, dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina bersifat konstitusional dan tidak pernah berubah.
Setiap upaya menggiring opini sebaliknya merupakan rekayasa politik yang bertujuan melemahkan legitimasi kepemimpinan nasional dan menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap negara.
“Kita tahu tujuan narasi ini untuk apa. Kita juga tahu siapa yang diuntungkan jika Indonesia tampak terisolasi, emosional, dan kehilangan arah diplomasi.
Kepentingan bangsa tidak boleh dikorbankan demi ambisi politik segelintir orang,” ujarnya.
Menurut David, pola serangan yang dimainkan selalu sama, yakni engangkat isu sensitif tanpa konteks utuh. Menggiring opini seolah pemerintah berkhianat pada nilai bangsa.
Kemudian memanfaatkan sentimen agama dan kemanusiaan. Terakhir, mencari keuntungan politik jangka pendek
Ia menegaskan, Presiden memilih jalan kepemimpinan aktif, bukan politik teriak dari pinggir.
Dengan tetap berada di forum internasional, Indonesia menjaga posisi tawar, suara moral, dan kepentingan nasional, sekaligus memastikan isu kemanusiaan,.termasuk Palestina, tetap diperjuangkan secara nyata, bukan sekadar slogan.
“Indonesia hadir bukan untuk membela perang, tetapi untuk menghentikan perang. Bukan untuk tunduk pada kekuatan besar, melainkan memastikan suara keadilan tidak dimonopoli pihak tertentu,” pungkas David.
PASBATA mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersikap kritis, rasional, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi adu domba yang bertujuan melemahkan persatuan nasional serta merusak kepercayaan rakyat terhadap negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Narasumber