Kasus Bullying Berujung Siswa SMPN 19 Tangsel Tewas, Bagaimana Mencegah Perundungan di Lingkungan Sekolah?
INDOZONE.ID - Seorang siswa SMPN 19 Tangerang Selatan berinisial MH (13) meninggal dunia setelah mengalami bully berkali-kali sejak masa MPLS.Keluarga menyebut korban kerap dipukul hingga ditendang.
Polisi kini menelusuri riwayat medis, sementara KPAI mendorong kasus ini diproses hukum. Kasus bully kembali jadi alarm bahaya bagi sekolah.
Kakak korban, Rizky, menyebut adiknya sudah mulai dirundung sejak masa MPLS.
Menurutnya, puncak kekerasan terjadi pada 20 Oktober. Saat itu MH diduga dipukul dengan kursi oleh teman sekelasnya.
“Sejak masa MPLS, yang paling parah kemarin 20 Oktober yang dipukul kepalanya pakai kursi,” ujar Rizky dikutip dari Antara, Senin (17/11/2025).
Saat keluarga menggali lebih dalam, MH mengaku sudah beberapa kali menerima kekerasan fisik, mulai dari dipukul hingga ditendang.
Baca juga: Siswa SMA 70 Jaksel Di-bully Kakak Kelas Sampai Babak Belur, 5 Pelajar Dipolisikan
Kondisi Kian Memburuk
Setelah kondisinya melemah, MH sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit swasta di Tangsel.
Namun kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Nyawanya tidak tertolong. MH meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif.
Polisi Telusuri Rekam Medis Korban
Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang, mengatakan penyidik kini fokus mendalami riwayat medis MH untuk memastikan apakah kondisi kesehatannya berkaitan dengan dugaan bully di sekolah.
“Sementara koordinasi dengan dokter yang menangani. Kemarin orang tuanya saya temui langsung,” jelasnya dilansir dari Tribata News.
Ia menambahkan bahwa penyidik sebelumnya sudah beberapa kali bertemu keluarga, namun menahan diri karena korban masih dalam kondisi kritis.
AKBP Victor juga membenarkan adanya informasi bahwa MH memiliki riwayat penyakit tertentu. Oleh karena itu, penyelidikan akan mengonfirmasi apakah faktor kesehatan tersebut berkaitan dengan dugaan perundungan.
“Kita fokus mengambil keterangan dari pihak kedokteran yang menangani almarhum,” katanya.
KPAI Dorong Proses Hukum
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai dugaan bully ini mengandung unsur kekerasan serius dan harus diproses secara hukum.
“Hari ini kami akan bertemu pihak keluarga. Kami akan meminta kalau bisa harus diproses hukum saja,” ujar Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini.
Menurutnya, luka fisik dan trauma berat yang dialami korban sudah termasuk tindak kekerasan terhadap anak. Diyah menegaskan proses hukum tetap bisa dilakukan meski pelakunya di bawah umur.
“Tidak apa-apa, kan ada sistem peradilan anak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya respons cepat dari sekolah dan pemerintah ketika terjadi kasus perundungan.
“Tindakan bullying ada di mana-mana dan kita semua sepakat jangan sampai ada bullying lagi,” katanya.
Pentingnya Deteksi Dini dan Respons Cepat
KPAI mengingatkan bahwa setiap pihak, sekolah, pemerintah, hingga orang tua, harus lebih peka membaca tanda-tanda bully. Menurut Diyah, deteksi dini bisa mencegah dampak serius, apalagi jika kekerasan sudah dilakukan berulang.
Jika sekolah tidak mampu menyelesaikan kasus secara internal, jalur hukum bisa ditempuh agar proses penanganannya transparan dan tuntas.
Jangan Takut Hadapi Bully
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, juga menyinggung soal bully saat menghadiri acara “Stand Up Against Bullying” di SMAN 3 Jakarta, Jumat pekan lalu. Ia mengajak pelajar menumbuhkan empati dan saling menjaga.
“Kakak kelas harus sayang adik kelas, adik kelasnya harus respek sama kakak kelasnya,” ujarnya.
Erick membagikan pengalaman pribadinya yang pernah mengalami bully saat bermain basket. Meski hampir seperti bermain tarkam, ia memilih untuk tetap bertahan.
“Saya tetap bermain sampai akhir game. Kakak-kakak kelas menghampiri saya, mereka bilang ‘kamu hebat, kamu tidak takut’,” ceritanya.
Ia berharap korban bully tidak merasa sendirian dan berani bicara. Sementara pelaku perundungan diminta tidak merasa bangga.
“Bully itu banyak yang lewat sosial media, banyak juga dengan kata-kata. Hadapi,” tegasnya.
Erick Thohir menekankan pentingnya membangun karakter empati di kalangan pelajar. Menurutnya, tidak mungkin seseorang menjadi baik tanpa empati pada keluarga, lingkungan, dan sesama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara, Berbagai Sumber, Narasumber