Sabtu, 20 SEPTEMBER 2025 • 18:10 WIB

Nestapa Para Peliput Demo Ricuh Agustus 2025 di Jakarta: Terjebak, Teror Kekerasan, dipentung Polisi Sampai Disiram Air Keras Oleh Massa

Author

Suasana kerusakan pasca ricuh demo disekitar Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot Subroto Jakarta. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

INDOZONE.ID - Di tengah maraknya berita-berita berterbangan di media sosial yang belum tentu kebenaranya ihwal demonstrasi berujung kericuhan disejumlah wilayah di Indonesia pada Agustus 2025, terdapat awak media dari berbagai media nasional berjibaku untuk mendapatkan berita yang akurat.

Tak ayal, para jurnalis ini harus mendapatkan beragam ancaman hingga bahaya keselamatan demi mendapatkan berita yang valid untuk masyarakat.

Tidak ada berita yang senilai dengan nyawa, begitu ungkapan yang melekat di kepala para jurnalis di lapangan. Namun, kata-kata itu seolah hanya angin lalu usai para jurnalis tetap beraksi di tengah kericuhan demo demi memberikan informasi yang akurat sekaligus melawan berita hoax yang muncul di media sosial.

Senin, 25 hingga Jumat, 29 Agustus 2025, demo yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta berakhir kelam lantaran terjadi kericuhan dimana-mana. Tak hanya di Jakarta, kericuhan juga melebar hingga ke sejumlah wilayah yang lainnya.

Baca juga: Selasa 23 September, Bareskrim Mediasi Ridwan Kamil dan Lisa Mariana di Kasus Tudingan Punya Anak

Bukan cuma kericuhan biasa, rentetan aksi massa sampai ke penyerangan terhadap markas kepolisian hingga terjadinya penjarahan rumah milik sejumlah pejabat. Media sosial sendiri juga turut andil berperan menyebar informasi propaganda sampai menghasut massa untuk berbuat kericuhan.

Catatan reporter Indozone di lapangan merangkum seluruh fakta hingga hoaks yang berterbangan ditengah isu demo tersebut. Meskipun tak bisa dipungkiri keselamatan dari para reporter itu juga terancam.

Jejak Demo Sejak 25 Agustus 2025 Hingga Jurnalis dipentung Polisi

Massa demo terlibat kericuhan dengan polisi. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Aksi unjuk rasa ini diawali sejak 25 Agustus siang di depan Gedung DPR RI yang diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat termasuk mahasiswa. Tuntutan berbagai macam mulai dari turunkan Prabowo-Gibran, bubarkan Kabinet Merah Putih dan DPR sampai muaknya massa atas tingkah joget-joget para anggota DPR RI saat sidang tahunan MPR.

Demo tersebut terus bergulir hingga 28 Agustus yang tentunya demo diwarnai aksi kericuhan. Ditengah kericuhan di kawasan Patal hingga DPR, seorang jurnalis dari Kantor Berita Nasional Antara dipukul oleh polisi saat sedang mengabadikan momen polisi mengamankan massa.

Baca juga: Kakorlantas Bekukan Sementara Penggunaan Sirine-Strobo Pasca Ada Gerakan Masyarakat

Ojol Affan Dilindas Rantis Brimob

Iring-iringan pengemudi ojek online (ojol) mengantarkan jenazah Affan Kurniawan ke TPU Karet Bivak di Jakarta, Jumat (29/8/2025). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

28 Agustus malam menjadi hari terakhir untuk seorang sopir ojol bernama Affan Kurniawan. Orderan makanan yang dia kirim malah membawa petaka.

Di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat malam, kepolisian tengah berupaya membubarkan aksi demo ricuh yang melebar. Polisi menembakan gas air dan dibalas timpukan batu hingga molotov oleh massa.

Saat mencoba membubarkan massa dengan rantis, Affan kala itu terjebak keramaian hingga tersungkur dan dilindas rantis. Saat dibawa ke rumah sakit, nahas nyawanya tak tertolong.

Berbagai narasi hoax muncul dimedia sosial semakin memperkeruh suasana. Aparat kini seolah diadu dengan masyarakat.

Netizen sendiri seolah menjadi pengamat yang maha benar. Bermodal video amatir yang tersebar juga semakin membuat panas situasi.

Polisi Larang Live Sosmed Saat Demo

suasana kerusakan pasca ricuh demo disekitar Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot Subroto Jakarta. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Kabid Humas Polda Metro Jaya Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi sebelumnya sempat meminta masyarakat tidak melakukan live media sosial saat demo. Hal ini bertujuan agar tidak memancing massa lain maupun pelajar untuk ikut berdemo sampai mericuh.

Ungkapan kepolisian ini tentunya memunculkan sentimen negatif dari sejumlah netizen. Mereka merasa aneh atas imbauan itu dan menanyakan korelasi live medsos dengan demo.

Beberapa hari barulah terungkap tujuan dari imbauan ini. Rupanya, ada sejumlah orang yang menghasut, mengajak pelajar untuk turun demo hingga ikut serta dalam kericuhan.

Sebanyak enam orang ditetapkan sebagai tersangka usai menghasut salah satunya Direktur Lokataru Foundation Delpedro Marhaen, seleb TikTok sampai dengan seorang pemuda yang berperan memberikan tutorial pembuatan molotov termasuk menyuplai molotov untuk para massa aksi.

"Memang ada berita-berita atau informasi yang mendorong mereka untuk ikut, asalnya dari media sosial, mereka menyebutkan TikTok sebagai sumber informasi cepat yang mereka tangkap lalu rasa ingin tahu mendorong mereka ikut," kata Komisioner KPAI Sylvana Maria Apituley sebelumnya.

Puncak Ricuh Demo 29 Agustus, Markas Polisi Diserang

suasana kerusakan pasca ricuh demo disekitar Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot Subroto Jakarta. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Jumat, 29 Agustus, awak media kembali harus bertugas turun ke lapangan untuk mencari fakta situasi di lapangan. Kala itu, massa dari elemen mahasiswa tak lagi mendemo DPR melainkan beraksi di Mapolda Metro Jaya dengan tuntutan mencopot Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Demo itu buntut dari ojol tewas dilindas rantis.

Massa datang sore hari ke depan Markas Polda Metro Jaya. Baru saja tiba, massa langsung merusak sejumlah mobil polisi yang melintas.

Polda Metro kala itu membuka pintu gerbangnya dan membiarkan massa berorasi di halaman Polda Metro Jaya, bahkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menemui massa. Hingga batas waktu demo yang ditentukan, massa tak kunjung bubar namun malah membuat kericuhan

Jurnalis Disiram Air Keras

Suasana demo mahasiswa di depan Polda Metro Jaya. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Jika sebelumnya tercatat jurnalis dihajar polisi, kali ini jurnalis diserang massa saat meliput demo di Mapolda Metro Jaya. Seorang jurnalis Disway kala itu berada di dalam Polda Metro Jaya tepatnya di pagar.

Seorang pria tiba tiba datang ke pagar dan langsung menyiram air keras. Beruntung air keras itu tidak mengenai kulit hanya mengenai sepatu korban.

Balai Wartawan dilempar Molotov

api membakar halte di depan polda metro jaya. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Kericuhan demo di depan Polda Metro Jaya berlangsung sejak sore hingga keesokan pagi harinya. Massa seolah mengepung kantor polisi tersebut dan melemparkan batu hingga molotov.

Aksi pembakaran halte di sekitaran Polda Metro Jaya juga dilakukan massa. Polisi saat itu menutup akses pintu masuk dan keluar dan membuat sejumlah jurnalis harus berada di markas kepolisian.

Sekitar pukul 02.00 WIB, massa mensenter area Polda Metro yang saat itu kondisi lampu di padamkan. Mereka mensenter bangunan Balai Wartawan, tempat biasa para jurnalis berkumpul dan bekerja.

"Ada orang itu, ada orang. Serang," teriak salah satu massa dari luar Polda Metro.

Sejurus kemudian, massa melempari batu termasuk molotov ke arah Balai Wartawan. Tentunya, saat itu para jurnalis masih berada di area Balai Wartawan.

Awak media enggan keluar dari Mapolda Metro dengan alasan keselamatan. Pasalnya, massa pericuh di depan Polda Metro Jaya masih terus melakukan provokasi agar polisi keluar dari markasnya termasuk menimpuk Polda Metro Jaya.

Markas Polisi Diserang

Suasana kerusakan pasca ricuh demo di sekitar Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot Subroto Jakarta. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Selain Polda Metro Jaya, malam itu tetap menjadi malam mencekam khusus di wilayah Jakarta Timur. Mapolres Metro Jakarta Timur hingga sejumlah Mapolsek disana turut diserang hingga dibakar oleh massa.

Bahkan saat pagi harinya, massa sempat mencoba menyerang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Brigjen Ade Ary sendiri mengungkap jika kerugian yang diderita Polri imbas ricuh di Jakarta mencapai Rp 180 triliun.

"Perlu kami sampaikan bahwa akibat rangkaian aksi anarkis ini, pertama kami mendapatkan data dari rekan-rekan Pemprov DKI Jakarta, banyak fasilitas umum yang rusak. Taksiran kerugian sekitar Rp 80 miliar," kata Ade Ary sebelumnya.

"Kemudian kerusakan yang kami alami terkait fasilitas atau bangunan di Polda Metro Jaya senilai lebih dari Rp 180 miliar antara lain pertama, peralatan atau sarana bangunan, gedung-gedung dari Mapolres, Mako Polsek, Polsubsektor, Pos Pol Lalu Lintas, kemudian beberapa material dan peralatan ada 3.430 unit, kemudian kendaraan ada 108 unit, fasilitas bangunan lainnya ada 76 unit," kata Ade Ary.

Rumah Pejabat Dijarah

Sejumlah massa tidak dikenal mendatangi rumah Anggota DPR Surya Utama atau Uya Kuya di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Minggu (31/8/2025). (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

Pasca demo ricuh, suasana tidak benar-benar tenang. Massa mulai melakukan aksi penjarahan diawali dari kediaman Ahmad Sahroni disusul kediaman Uya Kuya, Eko Patrio hingga Sri Mulyani.

Pasca penjarahan, polisi turun tangan dan menangkap para pelaku penjarahan rumah para pejabat tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU