Jumat, 17 JULI 2026 • 15:00 WIB

Iran Duga Serangan Baru AS untuk Melemahkan Posisi Pihak Teheran dalam Negosiasi

Author

Rudal milik Iran. (Majid Asgaripour/WANA via Reuters)

INDOZONE.ID - Iran kembali diserang Amerika Serikat (AS) yang diduga sebagai bentuk upaya pelemahan posisi pihak Teheran.

Dugaan itu disampaikan oleh anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani.

Selain menyampaikan soal dugaannya tersebut, ia juga menerangkan bahwa Pakistan, Qatar, dan Turki masih berusaha meredakan ketegangan antara negaranya dengan AS.

"Pakistan, Qatar dan bahkan Turki masih melakukan upaya mediasi. Namun, Amerika masih meyakini bahwa mereka akan mampu melemahkan Iran sampai batas tertentu sebelum perundingan berikutnya," kata Ardestani, dikutip dari Antara, Jumat (17/7/2026). 

Ardestani menilai AS tidak hanya berupaya melemahkan posisi Iran dalam negosiasi, tapi juga keberadaan negaranya di Selat Hormuz.

Baca juga: Serangan Terbaru AS Bunuh Sedikitnya 7 Warga Iran

Nota Kesepahaman Damai dalam Tanda Tanya 

Pada 9 Juli lalu, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan gencatan senjata antara negaranya dengan pihak Teheran telah selesai. Meski begitu, negaranya masih mau melanjutkan perundingan damai dengan Iran.

Gencatan senjata dengan Iran diklaim berakhir oleh Trump, karena serangan pihak Teheran ke kapal komersial di Selat Hormuz.

Kedua negara pun saling berbalas serangan lagi. AS menyerang sejumlah wilayah Iran, sedangkan Pihak Teheran membalasnya dengan mengincar aset-aset Paman Sam di Bahrain dan Kuwait.

Padahal, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan mediasi Pakistan pada Juni lalu. 

MoU ini bertujuan mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari serta mencapai perjanjian damai jangka panjang. Tapi, kesepakatan damai kini dipertanyakan kelanjutannya.

Nota Kesepahaman Damai Dinilai Ambigu

Sementara itu, Ardestani menilai MoU damai pun penuh poin-poin yang ambigu. Tak ayal, kedua negara bisa menafsirkannya dengan sudut pandang masing-masing.

Ia menjadikan butir kelima dalam MoU itu sebagai contoh. Butir kelima menjelaskan, bahwa pengelolaan Selat Hormuz dilakukan berdasarkan mekanisme Iran dengan bekerja sama pada Oman.

Padahal, Oman merupakan negara Arab yang rentan terhadap pengaruh negara-negara Teluk Arab sehingga berpeluang ada di bawah tekanan AS.

"Namun, karena Oman adalah negara Arab, negara itu lebih rentan terhadap pengaruh negara-negara Teluk Arab dan juga berada di bawah tekanan Amerika Serikat," ujarnya.

Ia melihat AS berusaha mengambil celah dari apa yang disebut sebagai koridor Oman, untuk melayarkan kapal-kapal melalui Selat Hormuz.

Baca juga: Donald Trump: Iran Sangat Ingin Capai Kesepakatan dengan AS, Jika Gagal Kami Lanjutkan Operasi Militer

Ardestani menilai itu sebagai usaha AS untuk mengurangi perang Iran dalam mekanisme pengelolaan Selat Hormuz dalam pembahasan lanjutan terkait kawasan itu dan isu nuklir.

Kondisi-kondisi ini jadi alasan di balik pecahnya lagi perang dengan tujuan melemahkan posisi masing-masing.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU