INDOZONE.ID - Penjabat Gubernur Papua Barat Daya Muhammad Musa’ad, mengajak masyarakatnya untuk mengonsumi makanan lokal seperti sagu, sebagai upaya mencegah inflasi di daerahnya.
“Inflasi itu naik karena kebutuhan meningkat, stok terbatas, maka kita perlu sadarkan masyarakat supaya kembali kepada kebiasaan mengonsumsi makanan khas seperti sagu,” ujar Musa’ad, Kamis (31/8/2023).
Menurutnya, makanan tradisional tersebut memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi untuk tubuh manusia, sehingga perlu adanya penerapan kembali kebiasaan awal untuk memanfaatkan makanan tradisional.
Baca Juga: Kota Semarang Kembali Catatkan Prestasi sebagai Kota dengan Inflasi Terendah
Selain itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya telah mengambil kata sepakat dengan organisasi perangkat daerah (OPD), bersama seluruh lima kabupaten dan satu kota, untuk menyediakan anggaran yang cukup dalam rangka pengendalian inflasi.
"Kita sudah sepakat untuk mengendalikan harga barang, memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif. Ini berjalan, tentu butuh dana, maka kita sudah sampaikan kepada OPD untuk siapkan dana," kata Musa'ad.
Jadi, kata dia, bukan hanya masyarakat yang didesak untuk makan sagu guna mengendalikan inflasi.
Peran aktif pemerintah pun dituntut untuk ambil bagian melalui langkah strategis dan konkret.
Baca Juga: Polda Metro Bongkar Bahaya Sebaran Dollar Palsu: Bisa Sebabkan Inflasi!
"Agenda yang nantinya dikerjakan sesuai dengan kesepakatan itu sudah dirangkumkan di dalam roadmap, dan kita pastikan akan berjalan," beber Musa'ad.
Bagian lain yang terus menjadi perhatian pemerintah adalah ajakan kepada seluruh masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah, dengan menanam tanaman produktif seperti, cabai, tobat, terong dan sayuran lainnya.
"Kebiasaan seperti ini perlu dibangun kembali, saya yakin inflasi ini akan menurun," ungkap Musa'ad.
Baca Juga: Ganjar Gencarkan Operasi Pasar demi Kendalikan Inflasi saat Ramadhan
Upaya konkret lain, sebut dia, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya pun berencana menjadikan kawasan di Kabupaten Sorong menjadi lumbung pertanian, mulai dari padi, jagung, sayur-mayur dan tanaman produktif lainnya.
"Kota Sorong sudah tidak ada lahan kosong, sementara Kabupaten Sorong lahannya masih kosong dan luas, itu nanti kita manfaatkan ke depan," sebut Musa'ad.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA