Het Europees Parlement (Parlemen Eropa) telah menyetujui Undang-Undang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence Act) dengan mayoritas suara. Undang-undang ini bertujuan untuk mengatur teknologi kecerdasan buatan (AI) dan mendorong pengembangan kecerdasan buatan yang lebih aman dan transparan di Eropa.
Uni Eropa (UE) menjadi yang pertama di dunia dalam membuat peraturan terkait AI. Kecerdasan buatan semakin mendapatkan tempat yang semakin penting dalam masyarakat kita.
Dalam upaya mengarahkan percepatan ini dengan baik, Parlemen Eropa menyetujui Undang-Undang Kecerdasan Buatan. Dari 620 anggota Parlemen Eropa, sebanyak 499 orang memberikan suara setuju.
"Ini adalah pemungutan suara yang bersejarah. Kami memberikan pesan kepada dunia tentang bagaimana kami dapat melindungi demokrasi dan pada saat yang sama mendukung inovasi," kata Anggota Parlemen Eropa dari Italia, Brando Benifei, yang menyusun undang-undang tersebut. "Ini adalah awal dari dialog global tentang bagaimana kita dapat membangun sistem AI yang bertanggung jawab."
Empat Kategori
Undang-undang ini bertujuan untuk mengatur kecerdasan buatan di Eropa sambil mendorong inovasi. Karena kecerdasan buatan adalah istilah yang luas, UE membagi aplikasi AI menjadi empat kategori risiko yang berbeda. Setiap kategori akan memiliki peraturan yang berbeda. Parlemen terutama menekankan pada transparansi tentang bagaimana kecerdasan buatan digunakan.
Pengguna harus dapat melihat hasil dari sistem tersebut, tetapi sering kali ada sedikit keterbukaan mengenai algoritma kompleks di baliknya. Hal ini harus berubah. UE juga ingin memastikan bahwa sistem AI aman dan tidak diskriminatif. Sistem AI harus selalu berada di bawah kendali manusia dan tidak boleh mengancam hak-hak asasi.
Untuk aplikasi dengan AI generatif seperti ChatGPT yang sudah terkenal, akan ada kategori terpisah. Pengembang harus menghindari agar model bahasa generatif tidak menghasilkan konten ilegal, dan harus dengan jelas menyebutkan bahwa teks tersebut dibuat dengan bantuan AI.
Pengenalan Wajah
Undang-undang ini juga melarang pengenalan wajah secara real-time. Hal ini khusus mencakup sistem yang terus-menerus merekam dan secara otomatis mengaitkan wajah orang-orang di ruang publik dengan database foto orang-orang yang melakukan kejahatan. Fraksi EPP (Partai Rakyat Eropa), yang termasuk CD&V, menentang larangan total seperti itu.
Mereka berpendapat bahwa dalam kasus penculikan anak, ancaman terorisme, dan kejahatan berat, sistem kamera pintar masih boleh digunakan. Amandemen yang mereka ajukan untuk tidak menyertakan larangan tersebut dalam undang-undang tersebut ditolak. Masalah ini kemungkinan akan dibahas kembali dalam tahap berikutnya yang harus dilalui oleh UE untuk menyetujui undang-undang tersebut secara definitif.
Namun, keputusan Parlemen Eropa ini belum menjadi keputusan final. Negosiasi dengan negara-negara anggota UE mengenai undang-undang tersebut akan segera dimulai, lebih cepat dari yang biasa terjadi di UE. Hal ini menunjukkan urgensi yang ada di Eropa mengenai kecerdasan buatan. Para kritikus berpendapat bahwa undang-undang ini sudah tertinggal.
Komisi Eropa berharap dapat mencapai kesepakatan penuh mengenai undang-undang ini dalam tahun ini. Setelah itu, masih akan memakan waktu dua tahun sebelum peraturan tersebut benar-benar berlaku. Mayoritas anggota Parlemen Eropa dari Belgia memberikan suara setuju terhadap AI Act. N-VA dan Vlaams Belang abstain.
N-VA berpendapat bahwa Parlemen Eropa memandang terlalu tinggi dirinya sendiri jika berpikir bahwa undang-undang ini akan menetapkan standar global.
"AI Act seharusnya menjadi kesempatan untuk mencapai kemitraan dengan AS dan Inggris Raya dan menetapkan standar untuk AI di semua demokrasi bebas. Namun, usulan yang sangat diatur ini dari UE justru akan membuatnya menjadi mitra pembicara yang sulit," kata Geert Bourgeois dari N-VA.
Dengan persetujuan AI Act oleh Parlemen Eropa, negosiasi dengan negara anggota UE mengenai undang-undang tersebut akan segera dimulai. Peraturan-peraturan yang diperlukan akan dibahas lebih lanjut, dan kemungkinan masih akan ada perubahan dan diskusi lebih lanjut sebelum undang-undang tersebut disahkan secara definitif.
Artikel Menarik Lainnya:
- Cara Memakai Filter Wajah Artificial Intelligence di TikTok
- VALL-E: Artificial Intelligence Microsoft yang Bisa Tirukan Suara Apapun dalam 3 Detik
- Hari Sumpah Pemuda, Gen Z Makin Kreatif Kembangkan Artificial Intelligence
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: