Sabtu, 18 SEPTEMBER 2021 • 11:11 WIB

Serangan Drone AS di Kabul Salah Sasaran, Bunuh 10 Warga Sipil Termasuk 7 Anak

Author

Mobil yang hancur karena serangan drone AS (REUTERS/Stringer)

Pentagon AS akhirnya merilis pengakuan bahwa serangan drone mereka ke Kabul, Afghanistan, menewaskan 10 orang warga sipil, alih-alih anggota ISIS-K.

Komandan sentral AS (CENTCOM) Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan kecil kemungkinan mobil yang diserang menggunakan rudal drone pada 29 Agustus adalah milik ISIS-K. Mobil tersebut dilaporkan milik pegawai organisasi kemanusiaan AS.

"Serangan ini kami yakini akan mencegah ancaman ke pasukan atau proses evakuasi. Tapi ini kesalahan dan saya meminta maaf," kata McKenzie, dilansir Sky News, Sabtu (18/9/2021).

Akibat serangan drone tersebut, 7 anak yang tak bersalah tewas. Sebagai komandan lapangan, McKenzie pun siap bertanggung jawab. Dia meminta maaf kepada keluarga korban dan bersedia mengganti rugi.

"Serangan udara itu jelas merupakan kesalahan yang tragis," katanya.

Sebelumnya, Pentagon selalu mengatakan eksekusi itu dilakukan secara sempurna dan menewaskan seorang fasilitator ISIS-K. Serangan drone itu dilancarkan tak lama setelah aksi bom bunuh diri di Bandara Kabul.

Serangan itu menewaskan 169 warga Afghanistan dan 13 tentara AS.

Setelah diinvestigasi, rupanya mobil tersebut dikendarai oleh Zemerai Ahmadi, pegawai di lembaga Nutrition and Education International.

Kala itu, dia baru pulang ke rumah dan putranya yang berusia 11 tahun hendak memasukkan mobil itu ke parkiran, sementara saudara-saudaranya menonton. Saat itulah, drone AS meluncurkan rudal Hellfire yang membunuh Ahmadi, anak-anaknya, dan sepupunya.

Intelijen AS berdalih menyerang mobil tersebut karena mirip dengan yang dipakai ISIS-K. Mereka memantau kendaraan itu selama 8 jam dan melihat beberapa benda diduga peledak dimasukkan ke dalam mobil.

Padahal, benda yang diduga peledak itu hanya botol air. Ahmadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan ISIS-K.

"Kami menyampaikan permintaan maaf, dan secara tulus berniat belajar dari kesalahan ini," ucap Menteri Pertahanan Jenderal Lloyd Austin.

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Zega

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU