Setelah 20 tahun, Amerika Serikat akhirnya menarik militernya dari Afghanistan. Perang dua dekade itu benar-benar menguras keuangan Amerika Serikat.
Dilansir Forbes, Amerika Serikat menghabiskan sekitar US$2,26 triliun atau sekitar Rp32.500 triliun untuk memerangi Taliban di Afghanistan.
Anggaran ini bahkan menyaingi total harta kekayaan 30 "crazy rich dunia" jika digabungkan. Mulai dari Jeff Bezos, Elon Musk, Bill Gates dan 30 miliarder dunia lainnya. Jika digabungkan, total kekayaan 30 miliarder dunia ini mencapai US$2,30 triliun.
“Total biaya perang USD 2,26 triliun itu setara USD 300 juta per hari. Dana tersebut termasuk USD 800 miliar biaya langsung perang dan USD 85 miliar dana pelatihan bagi militer Afghanistan,” beber Forbes.
Anggaran tersebut tentu tidak turun dari langit. Warga AS harus merelakan uang pajaknya digunakan untuk membiayai perang puluhan tahun yang tidak jelas arahnya.
“Amerika Serikat telah membiayai perang Afghanistan dari utang. Bunga utangnya saja harus dibayar sebesar USD 500 miliar. Pada tahun 2050, biaya bunga saja atas utang perang Afghanistan kita bisa mencapai USD 6,5 triliun. Itu artinya setiap warga AS harus menanggung USD 20 ribu,” papar Brown University.
Ironisnya, meski sudah menghabiskan banyak biaya perang, pada akhirnya AS menyerah memerangi Taliban dan memutuskan untuk "pulang kampung". Penarikan pasukan ini menambah banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh AS.
“Kami akan terus mengeluarkan biaya, sampai proses penarikan selesai,” ujar Presiden Joe Biden.
Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani juga sudah kabur dari negaranya. Dia bahkan terang-terangan mengatakan Taliban sudah menang dan menjadi penguasa Afghanistan.
"Taliban sudah menang lewat penghakiman dengan pedang dan senjata," kata Ashraf Ghani.
Selain materi, yang tidak terganti tentu saja adalah nyawa mereka yang hilang akibat perang. 2.500 prajurit AS tewas di Afghanistan, sementara kalangan sipil AS yang tewas mencapai 4 ribu orang. Jumlah lebih memilukan dialami Afghanistan. 167 ribu orang tewas, termasuk militer, warga sipil, dan Taliban.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: