Curhat Wanita Ayahnya Sakit Asma Tapi Dianggap Pasien Covid oleh RS, Tangan & Kaki Diikat
Seorang perempuan dengan akun Facebook Sulis Tyowati Sidareja Kunci, mengadu kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo atas perlakuan rumah sakit terhadap ayahnya.
Wanita asal Gombong, Kebumen, tersebut menduga pihak rumah sakit memperlakukan ayahnya tidak layak dan disebut sebagai pasien corona atau Covid-19.
Sulis mengunggah video pengaduan tersebut pada hari Kamis (10/12/2020) dan kini telah dibagikan lebih dari 3 ribu kali.
"Bapak saya bukan corona,saya ingin cukup keluarga saya yg merasakan ini cukup keluarga saya yg menjadi korban jangan sampai ada korban lagi,menyesal saya benar2 menyesal bapak saya dimakamkan secara corona,semoga bapak gubernur Jawa Tengah bisa lebih tegas,bisa melihat rakyat kecil seperti kami," tulis Sulis di keterangan video.
Sulis menceritakan bahwa pada tanggal 25 November 2020, ayahnya yang memiliki riwayat penyakit asma, dilarikan ke rumah sakit dan dibawa ke IGD.
Alangkah kagetnya Sulis ketika sampai ke rumah sakit, dia malah melihat ayahnya terbaring di sebuah ruangan tertutup dengan kaki dan tangan terikat.
"Salah satu perawat rumah sakit bilang kepada saya, ibu tidak boleh masuk, hanya bisa melihat dari kaca karena takutnya bapak ibu corona," kisah Sulis.
"Tak ada anak yang akan tega melihat bapak sendiri di dalam ruangan, sementara kala itu bapak saya butuh untuk dituntun, sampai akhirnya saya tetap memaksa untuk masuk," lanjutnya.
Sore harinya, dokter menawarkan agar ayahnya dipindahkan ke ruang ICU dan nantinya keluarga bisa mengawasi dari balik kaca.
Baca juga: Meninggal karena Covid-19, Surat Terakhir Pasien Bikin Keluarga Nangis: Ayah Minta Maaf
Namun, rupanya sang ayah bukan dimasukkan ke ruang ICU, malah ke ruang isolasi. Tidak seperti penjelasan dokter, di dalam ruangan tersebut bahkan tidak ada jendela dan kaca.
"Langsung saya berontak seketika itu juga. Saya bilang ke perawat kenapa bapak saya diisolasi kan bapak saya belum tentu korona, hati anak mana yang akan tega meninggalkan bapak di umur 76 tahun di ruang isolasi sendiri, dengan tangan dan kaki terikat," ujarnya.
Sulis pun mengancam akan menuntut rumah sakit jika nantinya ayahnya tidak positif Covid-19, namun malah diperlakukan seperti pasien Covid-19.
Tapi, perawat malah menegaskan bahwa Sulis tidak akan bisa menuntut karena dia hanyalah "orang bawah".
"Bapak Ganjar Pranowo, apakah benar hukum hanya untuk orang atas? sementara saya keluarga miskin tidak bisa menuntut," ujarnya.
Akhirnya, Sulis meminta ayahnya dibawa pulang. Permintaan tersebut dikabulkan dokter, dengan syarat membuat surat pernyataan paisen pulang atas kemauan sendiri dan biayanya tidak ditanggung BPJS.
Hari itu juga, Sulis berupaya mencari uang sebesar Rp2,5 juta untuk membayar biaya rumah sakit. Mirisnya, salah seorang mantri dari rumah sakit malah menyebarkan kabar bahwa ayahnya reaktif Covid-19 dan menolak diswab test.
Kabar ini membuat mereka didatangi petugas tiga hari kemudian dan seisi rumah, termasuk ayahnya, diswab tes. Hasilnya keluarga mereka negatif terinfeksi Covid-19.
Namun, warga tetap mengucilkan keluarga mereka. Bahkan, saat kondisi ayahnya terus memburuk dan dia ingin meminjam oksigen dari rumah sakit, hanya diberikan jika ada uang jaminan Rp1,7 juta.
"Saat itu kami tidak ada uang akhirnya kami pasrah. Tepatnya hari kamis malam pukul 12.30 bapak saya menghembuskan nafas terakhir. Yang membuat hati saya hancur, bapak saya dimakamkan secara corona, menawarkan tetangga pun tidak ada yang mau mandiin dan menyalati bapak saya," papar Sulis.
Permintaan keluarga agar ayahnya tidak dimakamkan pakai peti juga ditolak. Akhirnya, pada tanggal 6 Desember 2020, hasil lab menunjukkan bahwa ayahnya tidak terinfeksi Covid-19.
"Sampai sekarang warga masih mengucilkan keluarga kami. Maaf Bapak Ganjar, tolong bantu rakyat kecil seperti kami. saya tidak mau ada korban lagi cukup keluarga saya saja. Kami keluarga miskin yang tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah,
"PKH-pun, orang tua saya tidak pernah menerima. Sekali lagi saya mohon kepada Bapak Ganjar untuk bisa lebih adil. Saya mohon kepada Bapak ganjar, saya ingin masalah ini untuk dibersihkan. Untuk Bapak Ganjar, semoga bisa membuka hati. Saya tidak mau lagi ada pasien yang bukan corona tapi dimakamkan secara corona,
Saya ingin cukup keluarga saya saja yang merasakan ini semua, untuk keluarga saya saja yang merasakan ini semua. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya mohon keadilan ini, Bapak saya bukan korona. Saya mohon keadilan ini," pungkas Sulis dalam videonya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: