Minggu, 19 APRIL 2020 • 08:52 WIB

Gara-gara Corona, Mahasiswa Indonesia di AS Ini Belum Rasakan Kelas Tatap Muka

Author

Mahasiswa Indonesia di Amerika, Diyanah A. Ramadhaniyati. (Dok Pribadi)

Bisa kuliah di luar negeri merupakan impian banyak orang. Terlebih negara yang menjadi tujuan adalah Amerika Serikat (AS). Di mana kita tahu, Amerika menjadi salah satu negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Banyak kampus di Amerika masuk dalam deretan kampus top dunia. Fasilitas, sumber daya manusia dan kurikulumnya yang baik membuat banyak orang mengincar kampus-kampus di Amerika.

Namun, karena pandemi virus corona, perkuliahan tatap muka yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa pupus sudah. Harapan bisa bertemu dengan profesor yang mengajar dan berinteraksi dengan teman-teman di dalam kelas terpaksa harus ditunda sementara. Hal itu yang dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan S2 di American University, Diyanah A. Ramadhaniyati.

Diyanah menceritakan, sejak awal masuk perkuliahan semester dua, ia belum pernah merasakan kuliah tatap muka langsung bersama profesor yang mengajarnya. Ia juga belum pernah berinteraksi langsung dengan teman-temannya di kelas. Berawal dari program kerjasama luar negeri antara American University dengan Korea University di Korea Selatan, mengharuskan Diyanah mengikuti perkuliahan di Korea Selatan terlebih dahulu sebelum di American University. 

Diyanah saat berada di Korea University (Dok Pribadi)

Namun, saat Diyanah tiba di Korea Selatan, perkuliahan ditunda dua minggu karena wabah virus corona di Negeri Ginseng itu semakin parah, hingga akhirnya perkuliahan tersebut diputuskan berjalan online. Namun dari pihak American University memutuskan untuk membatalkan program kerjasama luar negeri selama satu semester, sehingga Diyanah pun diminta untuk kembali ke Amerika secepatnya. Pada saat itu perkuliahan di Amerika sudah berjalan setengah semester.

"Saya pun tidak punya pilihan karena semua perkuliahan sudah dimulai tengah jalan. Akhirnya dibantu oleh penasihat akademik, saya mencari profesor yang memperbolehkan saya mengejar perkuliahan di tengah kelas yang sudah berjalan," ujar Diyanah kepada Indozone, Minggu (19/4/2020).

Untuk mengejar ketertinggalan, Diyanah dibantu penasihat akademik meminta kelonggaran kepada dosen seperti nilai akhir akan dikeluarkan agak sedikit terlambat dibanding nilai teman-teman lainnya. Kemudian, ia juga harus bekerja ekstra dengan membaca jurnal-jurnal yang sudah dibahas di kelas-kelas yang tidak diikuti dan diminta untuk memberikan komentar tiap topik per minggunya, itu menjadi bukti dirinya sudah membaca jurnal-jurnal tersebut. 

"Deadline pengumpulan tugas yang saya belum kumpulkan juga menjadi lebih lama dibandingkan teman-teman saya yang sudah duluan memulai perkuliahan," tuturnya. 

Mahasiswa jurusan Comparative and Regional Studies itu pun harus mengikuti kelas online di American University dan mengejar ketertinggalannya. Diyanah mengaku kurang puas menjalani perkuliahan dengan sistem online karena dirasa kurang maksimal.

"Bagi mahasiswa baru seperti saya bertemu langsung dengan orang-orang baru di kelas termasuk profesor sangat penting untuk membangun networking yang nantinya juga berguna untuk karir profesional yang dibutuhkan sebagai syarat kelulusan saya. Kesempatan untuk mencoba fasilitas kampus pun tidak maksimal, misalnya ikut organisasi atau komunitas di kampus karena semua acara dibatalkan," tuturnya.

Diyanah saat mengikuti kelas online di American University (Dok Pribadi)

Menurutnya, dengan kelas online ekspektasi ilmu yang diharapkan tidak tercapai maksimal karena banyak perubahan pada silabus yang dibuat di awal semester. Kemudian, para dosen pun melonggarkan tugas dan kehadiran, sehingga dua aspek tersebut menjadi sesuatu yang tidak terlalu penting lagi. Terlebih sistem penilaian yang ditawarkan tidak dalam bentuk nilai A sampai F, namun diubah menjadi lulus/tidak, di mana nilai tersebut tidak terhitung sebagai indeks prestasi kumulatif (IPK). 

Kemudian, sambung Diyanah, saat kelas online berlangsung, para dosen terlihat lebih ekstra mengajak para mahasiswa untuk berdiskusi dan lebih banyak memberikan materi perkuliahan ketimbang memberi masukan kepada mahasiswanya. Namun nantinya, kata Diyanah, para mahasiswa akan dibagi ke dalam grup dan dibuatkan ruang sendiri untuk berdiskusi, sehingga dosen tidak lagi ikut “nimbrung” memberikan masukan. 

Penerima beasiswa LPDP BIT itu menceritakan, perkuliahan online berjalan menggunakan aplikasi Zoom dan berlangsung selama 2,5 jam. Namun, ada beberapa kelas yang sifatnya pelatihan soft skills sehingga memakan waktu tiga hari di akhir pekan dari pukul 09.00 hingga pukul 15.00 waktu setempat. 

Ia mengungkapkan, pada pekan pertama dan dua perkuliahan online, masih banyak mahasiswa yang ikut dalam video call aplikasi Zoom dan menunjukkan wajah saat kelas online, namun memasuki pekan ketiga, banyak mahasiswa yang hanya ikut dalam pertemuan online tanpa mengaktifkan kamera videonya dengan alasan bandwith internet yang tidak memadai. 

"Itu juga yang menjadi masalah ketika kelas lebih dari tiga jam, karena masalah teknis seperti hilangnya suara, terpotongnya gambar video atau putusnya sinyal Wifi tiba-tiba pasti mengganggu perkuliahan. Tidak heran beberapa dosen lebih senang untuk merekam perkuliahannya dan menyarankan mahasiswa untuk menonton belakangan," kata Diyanah. 

Mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di American University, Diyanah A. Ramadhaniyati (Dok Pribadi)

Selain itu, menurutnya, diskusi via chat di aplikasi Zoom saat perkuliahan online juga tidak fokus karena umumnya ada banyak topik yang dibahas sekaligus dan sulit untuk mengatur urutan siapa yang mengetik terlebih dahulu untuk menyampaikan pendapat. 

Meski demikian, Diyanah melihat ada satu hal positif yang dirasakan saat menjalani perkuliahan online yaitu semua mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa merasa malu. Sebab tiap mahasiswa dimintai pendapatnya terkait isi jurnal yang dibaca, lalu dituliskan di aplikasi Blackboard sebelum kelas online dimulai. 

"Jadi biasanya pada aplikasi Blackboard yang disediakan kampus, setelah kami menyelesaikan membaca jurnal, pendapat kami diminta untuk dipost di aplikasi tersebut sebelum kami hadir di dalam kelas online," tuturnya. 

Artikel menarik lainnya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU