Kamis, 09 APRIL 2020 • 11:33 WIB

Cerita Petugas Medis Ditolak Pihak Rumah Sakit karena Bawa Pasien Terduga Corona

Author

Kiri: Bidan desa yang ditolak sejumlah rumah sakit (Facebook/Julianto Putra). Kanan: Ilustrasi staf medis membawa psien corona (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Hingga detik ini, wabah virus corona di Indonesia masih menjadi perhatian serius banyak orang dari berbagai daerah.

Tak hanya kota-kota besar di Indonesia, sejumlah kabupaten dan kota pun sudah masuk zona merah wabah virus corona.

Di saat seperti ini, peran tenaga medis sangat diperlukan agar korban akibat virus corona tak semakin bertambah.

Namun, sejumlah petugas medis malah mengalami kesulitan saat menangani pasien yang sakit. Apalagi, pasien tersebut berasal dari daerah.

Dalam video terlihat, seorang bidan desa yang mengenakan baju pelindung diri berwarna kuning menceritakan tentang pengalamannya saat tengah berusaha menyelamatkan pasien.

Bidan yang berasal dari Labuhan Batu, Sumatera Utara   ini menceritakan, saat ia berusaha untuk menyelamatkan pasien, ia malah mendapat penolakan dari sejumlah pihak.

Petugas medis ini awalnya mengungkapkan bahwa ia mejemput seorang pasien yang diduga terinfeksi virus corona. Pasien yang masih berusia 17 tahun itu diketahui baru pulang dari Semarang.

Sejak kepulangan itu, remaja tersebut mengalami flu,  seperti halnya gejala virus corona. Ia menceritakan, saat itu, ia tidak sedang bertugas di posko. Namun, karena rasa kemanusiaannya, ia rela menjemput pasien tersebut dari rumahnya untuk segera mendapatkan penanganan.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat itu, dokter puskesmas tidak ada memberi surat rujukan untuk pasien pergi ke rumah sakit.

Tak ingin kondisi pasien tersebut semakin parah, bidan desa kemudian membawa pasien itu ke rumah sakit daerah. Namun, sesampainya di depan ruang UGD Rumah Sakit Daerah, ia bersama seorang pria tidak diperbolehkan masuk oleh petugas.

"Ibu dari mana?" tanya petugas yang mencegat bidan desa ini.

Ia lalu menjelaskan dari mana ia berasal dan penyakit apa yang diderita oleh pasien yang dibawanya.

Ilustrasi staf medis membawa pasien terduga corona. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

"Pasiennya punya riwayat 14 hari baru pulang dari Semarang. Dengan keluhan sedikit batuk, flu tapi tidak ada demam," jawab bidan desa tersebut.

Setelah mendengar jawaban dari bidan tersebut, petugas UGD langsung menjelaskan bahwa mereka tidak menerima pasien penderita virus corona. Petugas itu malah menyuruh bidan desa tersebut untuk membawa pasien ke rumah sakit Medan.

"Kami tidak melayani pasien covid. Langsung ke Rumah Sakit Sari Mutiara Medan," ujar bidan desa ini menirukan perkataan petugas RSUD.

Bidan desan ini menceritakan bahwa petugas di RSUD tersebut tidak memberi rujukan, untuk membawa pasien ke rumah sakit Medan. Petugas itu bahkan tak mau melihat pasien yang dibawa.

Karena tak mendapatkan kepastian, bidan desa ini lalu membawa pasien ke  Rumah Sakit Sari Mutiara Medan. Sayangnya, saat di  Rumah Sakit Sari Mutiara Medan, mereka baru mengetahui bahwa rumah sakit itu tak lagi beroperasi.

Mereka kemudian membawa pasien itu ke rumah sakit rujukan pasien COVID-19. Namun. saat sampai di rumah sakit tersebut, ia merasa sedih.

Pasalnya, saat ambulance mereka sampai, semua orang yang ada di rumah sakit itu langsung menjauh. Ia kemudian langsung memasuki ruang UGD. Namun, ia tak menemukan satu orang pun di ruangan ini.

Kemudian, keluarlah seorang dokter perempuan yang menanyakan maksud kedatangan mereka. Ia lalu menjelaskan kronologi yang dialaminya. Mulai dari menjemput pasien ke rumah, hingga perjalanan mereka ke Rumah Sakit Sari Mutiara Medan yang tak membuahkan hasil.

Tapi, siapa sangka, bukannya langsung memberi perawatan, dokter itu malah mengatakan bahwa rumah sakit tersebut belum menerima informasi dari call center dan langsung menutup pintu, meninggalkan mereka.

Kemudian datanglah seorang pria memakai baju putih seperti seorang satpam sembari menanyakan apa yang terjadi. Bidan tersebut kemudian mengungkapkan bahwa ia baru saja ditolak oleh dokter perempuan itu.

Satpam tersebut kemudian mendatangi dokter perempuan tadi dan meminta agar pasien yang dibawanya bisa dilakukan rapid test.

Namun, dokter tersebut malah menyuruh bidan desa yang melakukan rapid test. Dokter tersebut mengaku bahwa ia tak mau melakukan rapid test karena baju alat pelindung diri (APD) yang mahal.

Tak mau memperpanjang perdebatan, bidan desa ini kemudian mengalah untuk melakukan rapid test kepada pasien. 

Seorang pria paruh baya yang menemani bidan desa ini juga sempat melontarkan ucapan bernada kesal, melihat perlakuan dokter tersebut.

"Loh kayak mana kalian. Kami udah dari desa, udah menjemput bola, tau tau kami juga yang melakukan rapid test," ujar bapak tersebut.

Setelah memakai semua perlengkapan, bidan desa ini siap untuk melakukan rapid test. Saat rapid test akan dilakukan, petugas tersebut malah mengatakan bahwa ia tak perlu takut.

Bidan desa yang sudah kesal dengan perlakuan dokter di rumah sakit itu kemudian mengatakan, bahwa ia tidak takut untuk melakukan rapid test. Ia malah menyinggung dokter rumah sakit yang tak mau melakukan rapid test hanya karena APD yang mahal.

ilustrasi staf medis menunjukkan sampel darah rapid test. (ANTARA FOTO/Didik Setiawan)

Dengan rela hati, bidan desa ini kemudian melakukan rapid test kepada pasien di dalam ambulance.

Ia menceritakan, tak ada satu orang pun yang berani medekati mereka. Orang-orang di rumah sakit itu melihat mereka seperti "hantu", hingga tak mau mendekat.

Saat rapid test sudah diambil, datang seorang dokter jaga yang kembali menanyakan siapa mereka. Ironisnya, dokter tersebut mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan berlebihan alias lebay.

Petugas itu menjelaskan bahwa pasien itu hanya mengalami sedikit batuk. Petugas jaga itu bahkan mengatakan bahwa pasien yang dibawa ke rumah sakit itu berusia di atas 60-an, sehingga pasien yang masih muda seharusnya mendapat penanganan dari puskesmas setempat atau rumah sakit terdekat.

"Lain kali, kalau kayak gini gejalanya bukan berarti covid," cerita bidan desa tersebut menceritakan jawaban dari petugas jaga rumah sakit.

Bidan desa ini menceritakan bahwa pasien yang dibawanya diminta untuk melakukan isolasi diri di rumah. Kades setempat juga akan mengirimkan sembako, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
 

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU