Pemerintah Jepang telah sepakat untuk melakukan alih teknologi selama revitalisasi jalur kereta api Pantai Utara Jawa berlangsung di Indonesia.
Wakil Duta Besar Jepang Bidang Ekonomi di Indonesia Tadayuki Miyashita mengatakan ada lima metodologi konstruksi yang akan diajarkan dari Jepang ke Indonesia.
"Lima metodologi itu, di antaranya metode jalur tanpa ballast untuk kereta semi cepat. Yang kedua, pile slab reinforced concrete atau konstruksi jalur kereta lempeng beton sebagai media yang dapat mendistribusikan beban ganda kereta," ujar Miyashita.
Tiga metode lainnya yang menjadi sasaran alih teknologi ialah, pre-cast frame atau beton cetak untuk membangun struktur rangka permanen, unit pembangkit listrik tenaga diesel (Diesel Electric Multiple Unit/DEMU) dan sistem pemberhentian kereta otomatis (automatic train stop type-P/ATS-P).
Revitalisasi jalur kereta api pantai utara (pantura) Jawa diperkirakan akan menghabiskan biaya hingga Rp60 triliun. Namun besaran angka ini dapat berubah karena masih harus menunggu hasil survei persiapan (prepatory survey) yang akan dimulai sekitar Oktober 2019.
Perwakilan Senior Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) di Indonesia Tomoyuki Kawabata mengatakan bahwa murah atau mahalnya biaya revitalisasi tergantung pada rencana yang dilakukan misalnya, pembangunan jalur bawah tanah (underpass) akan menelan lebih banyak biaya daripada jalur layang (flyover).
"Dalam prepatory survey ini kami akan mempertimbangkan banyak faktor, seperti detail jalur, komponen yang akan digunakan di masa depan dan estimasi biaya secara detail, serta rencana menjalankan proyek," ujarnya.
Rencana survei yang akan dimulai pada bulan Oktober ini membutuhkan waktu satu hingga 1,5 tahun. Bulan Mei 2020, tim survei JICA akan menyampaikan hasil kajian sementara kepada pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Pemerintah Indonesia dan Jepang sendiri sudah menandatangani kesepakatan teknis untuk proyek revitalisasi jalur kereta api pantai utara. Nantinya, revitalisasi jalur ini akan menjadi jalur kereta semi cepat Jakarta-Surabaya.
Tak hanya itu, ada pula poin-poin lain yang disepakati pemerintah Indonesia dan Jepang, yaitu mencakup spesifikasi teknis pembangunan, pembagian waktu konstruksi, penentuan pihak yang bertanggung jawab, penggunaan komponen dalam negeri, pembiayaan, pertukaran data, serta aturan teknis selama proses revitalisasi berlangsung.
Penandatanganan ini dilakukan di Jakarta, tepatnya pada Selasa (24/09). Pihak pemerintah Indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri dan Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto.
Sementara itu, pihak Jepang diwakili Direktur urusan Ekonomi Kedubes Jepang Tadayuki Miyashita dan Perwakilan Senior Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) Tomoyuki Kawabata.
Penandatanganan ini juga disaksikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Dubes Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii, dan Kepala Perwakilan JICA Yamanaka Shinichi.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: