Pemerintah Australia, mendeklarasikan perang terhadap kucing liar dan ingin mengurangi sebagian besar dari total populasi kucing liar yang ada disana, yaitu dua juta ekor.
Bahkan, di Queensland, dewan pemerintahan setempat menawarkan imbalan Rp 109 ribu bagi siapa saja yang berhasil menangkap kucing liar. Namun, organisasi perlindungan hewan, PETA menganggap cara tersebut cukup kejam.
Lalu, mengapa kucing disana diperangi? Hal itu dikarenakan hewan tersebut dituding sebagai predator yang membahayakan kelestarian lingkungan di Australia.
Walaupun kucing liar termasuk spesies yang sama dengan kucing rumahan, akan tetapi hewan ini hidup di alam liar yang mengharuskan mereka berburu agar bisa bertahan hidup.
"Sejak pertama kali diperkenalkan oleh pemukim Eropa, kucing liar telah membantu mengusir sekitar 20 spesies mamalia hingga punah," kata Gregory Andrews, komisaris nasional spesies terancam kepada Sydney Morning Herald.
Andrews menganggap bahwa kucing liar merupakan satu-satunya ancaman terbesar bagi spesies asli yang ada di Australia. Hingga saat ini, 80 persen mamalia lokal dan 45 persen unggas tidak ditemukan di alam liar lainnya.
Seorang juru bicara Departemen Lingkungan dan Eneergi Australia, mengatakan bahwa kucing telah membunuh lebih dari 1 juta burung asli dan juga 1,7 juta reptil setiap harinya di Australia.
Pemerintah Australia sendiri mendeklarasikan perang terhadap kucing liar sejak tahun 2015 dan menjanjikan uang senilai Rp 54,5 miliar untuk kelomppok yang berhasil menangkap kucing liar.
Banyak yang mengecam cara yang dilakukan oleh pemerintah Australia ini, Tim Doherty, seorang ahli ekologi konservasi dari Deakin University di Australia, menuturkan bahwa memusnahkan kucing liar tidak akan bisa langsung menyelamatkan nyawa hewan mamalia ataupun burung.
"Tidak ada cara yang benar-benar dapat diandalkan untuk memperkirakan populasi kucing liar di seluruh benua, dan jika Anda akan menetapkan target, dan jika Anda ingin itu menjadi bermakna, Anda harus dapat mengukur kemajuan Anda ke arah itu," kritik Doherty.
"Target kucing liar harusnya yang telah tinggal di tempat yang mengancam hewan lokal. Faktanya, kucing-kucing ini tida tinggal di hutan," lanjutnya.
Bahkan, di Queensland, dewan pemerintahan setempat menawarkan imbalan Rp 109 ribu bagi siapa saja yang berhasil menangkap kucing liar. Namun, organisasi perlindungan hewan, PETA menganggap cara tersebut cukup kejam.
Lalu, mengapa kucing disana diperangi? Hal itu dikarenakan hewan tersebut dituding sebagai predator yang membahayakan kelestarian lingkungan di Australia.
Walaupun kucing liar termasuk spesies yang sama dengan kucing rumahan, akan tetapi hewan ini hidup di alam liar yang mengharuskan mereka berburu agar bisa bertahan hidup.
"Sejak pertama kali diperkenalkan oleh pemukim Eropa, kucing liar telah membantu mengusir sekitar 20 spesies mamalia hingga punah," kata Gregory Andrews, komisaris nasional spesies terancam kepada Sydney Morning Herald.
Andrews menganggap bahwa kucing liar merupakan satu-satunya ancaman terbesar bagi spesies asli yang ada di Australia. Hingga saat ini, 80 persen mamalia lokal dan 45 persen unggas tidak ditemukan di alam liar lainnya.
Seorang juru bicara Departemen Lingkungan dan Eneergi Australia, mengatakan bahwa kucing telah membunuh lebih dari 1 juta burung asli dan juga 1,7 juta reptil setiap harinya di Australia.
Pemerintah Australia sendiri mendeklarasikan perang terhadap kucing liar sejak tahun 2015 dan menjanjikan uang senilai Rp 54,5 miliar untuk kelomppok yang berhasil menangkap kucing liar.
Banyak yang mengecam cara yang dilakukan oleh pemerintah Australia ini, Tim Doherty, seorang ahli ekologi konservasi dari Deakin University di Australia, menuturkan bahwa memusnahkan kucing liar tidak akan bisa langsung menyelamatkan nyawa hewan mamalia ataupun burung.
"Tidak ada cara yang benar-benar dapat diandalkan untuk memperkirakan populasi kucing liar di seluruh benua, dan jika Anda akan menetapkan target, dan jika Anda ingin itu menjadi bermakna, Anda harus dapat mengukur kemajuan Anda ke arah itu," kritik Doherty.
"Target kucing liar harusnya yang telah tinggal di tempat yang mengancam hewan lokal. Faktanya, kucing-kucing ini tida tinggal di hutan," lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber:
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU