Minggu, 27 JULI 2025 • 11:18 WIB

Banyuwangi Rayakan Hari Anak dengan Permainan Tradisional, Lawan Kecanduan Digital

Author

Banyuwangi Gelar Festival Mainan Anak Tradisional (sumber: Humas Pemkab Banyuwangi)

INDOZONE.ID - Hari Anak Nasional menjadi momentum berharga bagi Kabupaten Banyuwangi untuk memupuk karakter generasi muda melalui warisan budaya. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memilih cara unik dengan menggelar Festival Memengan Tradisional, yang dilaksanakan di RTH Maron, Kecamatan Genteng, Sabtu 26 Juli 2025. Acara ini diikuti hampir seribu siswa dari berbagai SD dan menjadi ajang untuk memperkenalkan serta melestarikan permainan khas masa lalu.

Festival ini mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang mencerminkan upaya membentuk anak yang sehat dan berkarakter. Nilai-nilai seperti kebiasaan bangun pagi, beribadah, makan sehat, dan bersosialisasi ditekankan dalam berbagai kegiatan yang dikemas menarik dan interaktif.

Anak-anak tampak bahagia mengikuti lomba permainan seperti egrang batok, egrang bambu, dan terompah panjang. Luna, peserta dari SDN 1 Jambesari mengaku senang bisa ikut bermain sambil berkompetisi. “Seru banget main terompah bareng teman-teman. Kuncinya harus kompak,” ucapnya dengan semangat.

Festival menjadi semakin meriah dengan parade budaya dari berbagai kelompok sekolah yang menampilkan permainan zaman dulu, seperti balap pelek, lompat tali, bedil-bedilan, kapal-kapalan, hingga jaranan dan gamelan mini. Kreativitas dan semangat anak-anak menciptakan suasana hangat dan penuh nostalgia.

Baca juga: Wakil Ketua DPRK Hadiri Acara Peringatan Hari Anak Nasional 2025 Kabupaten Aceh Tengah

Bupati Ipuk Fiestiandani menyoroti tantangan serius yang dihadapi anak-anak di era digital. Ia mengungkapkan, “Digitalisasi tak bisa dihindari, tapi harus diimbangi dengan penguatan karakter dan budaya lokal. Jangan sampai anak kita hanya akrab dengan gim digital, tapi lupa dengan akar budayanya.”

Ipuk juga menyampaikan keprihatinannya atas data BSSN yang menunjukkan bahwa lebih dari dua juta anak Indonesia aktif bermain game daring. Bahkan menurut laporan KPAI, sekitar 30 persen anak telah menunjukkan tanda-tanda kecanduan game dan judi online.

Menurut Ipuk, melalui permainan tradisional anak bisa belajar banyak hal penting seperti kejujuran, empati, kerjasama, dan kepemimpinan. Selain itu, aktivitas fisik dari permainan ini juga sangat baik bagi kesehatan mereka.

“Festival ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi diri melalui aktivitas yang menyenangkan, sambil mencintai budaya lokal,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di sini, Ipuk mengimbau agar permainan tradisional terus diajarkan di lingkungan rumah dan sekolah. Ia menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membentuk kebiasaan positif anak sejak dini.

“Semua ini butuh dukungan terutama dari orang tua. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari di rumah,” katanya.

Baca juga: Peringati Hari Anak Nasional Siswa SDN 2 Nepen Boyolali Karnaval Keliling Desa dan Minum Susu Bersama

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, menambahkan bahwa festival ini menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional. Uniknya, kegiatan ini juga diikuti secara serentak oleh siswa dari seluruh SD se-Banyuwangi secara daring. Tercatat 900 siswa dari 25 kecamatan turut ambil bagian.

“Di Jawa Timur hanya Banyuwangi yang memiliki permainan (memengan) tradisional semacam ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” tutup Suratno.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Pemkab Banyuwangi

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU