INDOZONE.ID - Obesitas alias kegemukan menjadi masalah serius di ASN Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sementara 15 persen lainnya mengalami gangguan mental.
Pemprov DKI Jakarta menemukan lebih dari separuh ASN-nya mengalami obesitas dan sebagian lagi berisiko gangguan mental. Data ini muncul dari setelah Pemprov DKI melakukan skrining kesehatan ribuan pegawainya.
Hasil skrining menunjukkan, 62,09 persen ASN DKI Jakarta mengalami obesitas dan 15 persen lainnya terindikasi punya masalah kesehatan mental.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati, menyebut kondisi ini jadi perhatian serius. Menurutnya, obesitas berkaitan erat dengan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, stroke, hingga jantung.
Skrining dilakukan sepanjang 2024 terhadap 9.936 ASN. Pemeriksaan mencakup indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, kebugaran jasmani, kadar gula darah, hingga aspek kesehatan mental.
Hasilnya cukup mencemaskan. Dari total 62,09 persen ASN yang obesitas, 40,03 persen masuk kategori obesitas tingkat I, dan 22,06 persen tergolong obesitas tingkat II. Ini menunjukkan potensi risiko kesehatan jangka panjang yang serius.
Tak cuma itu, pengukuran kesehatan mental dengan alat SRQ-29 milik WHO menemukan 15,03 persen ASN berpotensi mengalami gangguan psikologis, dari gejala ringan hingga kesulitan tidur. Meski bukan diagnosis medis, data ini jadi sinyal perlunya penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Pemobil Viral Terkait Polantas Persoalkan SIM Jakarta Kini Sudah Ditemukan
Sementara itu, dari sisi kebugaran, hanya 9,6 persen ASN yang tergolong “baik” atau “baik sekali” berdasarkan uji Rockport Walk Test. Sisanya masuk kategori “cukup” bahkan “kurang”, yang berarti aktivitas fisik mereka sangat minim.
Jangan Cuma Duduk
Menanggapi hal ini, Pemprov DKI meluncurkan program Jakarta BERJAGA (Bergerak, Bekerja, Berolahraga dan Bahagia). Kampanye ini mengajak ASN dan masyarakat jalan kaki minimal 7.500 langkah setiap hari selama 21 hari berturut-turut.
“Kegiatan ini dirancang untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular sekaligus mendorong deteksi dini masalah psikologis yang sering kali tidak disadari,” kata Ani dikutip dari Antara, Minggu (20/7/2025).
Selain itu, untuk memotivasi ASN menurunkan berat badan, ada juga tantangan bertajuk “Challenge Downgrade Ukuran Bajumu”.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Hadiri Forum PBB di New York, Tegaskan Komitmen Jakarta Terhadap SDGs
Rano Karno Mau ASN Lebih Aktif
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, juga angkat suara. Ia ingin mengaktifkan kembali olahraga bersama setiap Jumat pagi. Aturan ini sudah diatur lewat Instruksi Gubernur.
“Sebetulnya Ingub-nya sudah ada. Instruksi Gubernur sudah ada tiap Jumat itu olahraga. Cuma sekarang saya mau galakkan lagi,” ujar Rano dilansir dari Berita Jakarta.
Rano juga mendukung kebijakan wajib naik transportasi umum tiap Rabu bagi ASN. Selain ramah lingkungan, ia merasa ini cara sederhana untuk bikin pegawai lebih banyak bergerak.
“Saya jujur, jadi lebih banyak jalan. Bayangin, saya dari rumah di Lebak Bulus naik dari situ, pasti jalan kaki dulu. Itu banyak sekali manfaatnya,” ujarnya.
Rano berharap kombinasi olahraga rutin dan kebijakan aktif bergerak, membuat ASN bisa lebih sehat, baik secara fisik maupun mental.
“Kalau sudah ada Ingub-nya, Jumat saya wajibkan. Minimal buat saya, jadi seminggu dua kali pasti olahraga,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara, Berita Jakarta